Melongok Tarsius di Tepi Pantai Ratulangi, Sulawesi Utara

 

tarsius1

Pantai Ratulangi: salah satu pantai yang masih menjadi habitat tarsius.

Baru di tahun 1990 tarsius dimasukkan dalam kategori binatang langka. Primata bermata besar itu masih bisa dijumpai di habitat aslinya, salah satunya di Desa Ranowangko di Minahasa.

Kondisi bugar dan cuaca cerah pagi itu menunjang untuk memulai perjalanan istimewa di tanah Minahasa, Sulawesi Utara. Moda transportasi berupa sepeda motor sewaan dan informasi jalur dari penduduk setempat membuat kami semakin optimistis menemukan kawasan itu dengan mudah.

Kami, saya dan satu rekan dari Jakarta, bergegas melajukan sepeda motor itu ke Pantai Ratulangi, Desa Ranowango Dua, Kecamatan Kombi, Minahasa. Pagi itu pada akhir Desember 2013, kami bertekad menemukan tarsius, monyet mungil khas Sulawesi.

Kami penasaran untuk bisa bertemu muka dengan tarsius di habitat aslinya. Selama ini, seolah-olah binatang nokturnal itu hanya ada di cagar alam gunung Tangkoko.

Hasil obrolan dengan kenalan di dunia maya menyebutkan: di Ranowangko, tarsius masih dapat ditemui dengan mudah. Artinya bisa setiap hari, tapi sesuai dengan momen mereka keluar mencari makan, sore hari.

Apalagi kenalan itu menjanjikan tarsius tersebut tinggal di tepi pantai berpasir yang masih sungguh perawan. Plus, setelah menyaksikan tarsius, paa penduduk lokal itu menjanjikan pesta ikan bakar satu ember dengan hanya merogoh Rp 120 ribu. Siapa tak tergiur. Toh, hanya butuh waktu dua jam dari Manado ke Ranowangko.

Perjalanan menuju tkp alias tempat kejadian perkara cukup lancar hingga 1,5 jam awal. Aspal mulai mengelupas pada sisa waktu sekitar tiga puluh menit. Lama-kelamaan jalur menyisakan jalan berbatu.

Perut yang keroncongan kian menjadi lawan. Maklum susah sekali menemukan restoran atau warung makan karena, bak hari raya Idul Fitri di Jakarta, para penjual kompak meliburkan diri menyambut Natal dan tahun baru.

Ah tak apa, tuan rumah kan sudah menjanjikan ikan bakar seember. Tapi angan-angan itu segera buyar dengan jalur berbatu yang harus kami lalui. Butuh keahlian khusus mengendara sepeda motor demi bisa selamat mencapai bibir pantai.

Untungnya, setibanya di bibir pantai tak sedikit rumah panggung dari kayu yang sengaja disediakan untuk wisatawan. Lumayan untuk melepas penat dan menyelonjorkan kaki sejenak.

Menurut informasi rumah-rumah itu tak disewakan, para pendatang boleh menggunakannya. Asalkan bersedia membersihkan sesudahnya.

Rumah singgah: di Ranowangko – digratiskan bagi wisatawan, asalkan dirapikan dan dibersihkan usai menggunakan.

Melongok tarsius di desa ini ternyata tak perlu berjalan jauh. Ada satu pohon yang dikenal masih menjadi ‘rumah’ tarsius.

Pohon tersebut hanya berjarak selemparan batu dari rumah singgah. Tinggal nyemplung ke pantai berpasir putih itu dan ngetem di bawah pohon rindang untuk menunggu si mungil bermata besar tersebut.

Memang di sini tak banyak pohon habitat primata berkulit seperti kain beludru itu. Ya, hanya satu pohon yang masih dipercaya tarsius sebagai tempat tinggal.

“Dulu di pohon lain ada, tapi saat ada wisatawan dari Jepang membuat perapian di bawahnya, mereka pergi,” kata Yongky Lengkong, 30 tahun, penduduk setempat.

Yongky pun membawa kami ke pohon bertarsius itu. Dia mengistruksikan agar kami mengendap-endap. Siapa tahu tarsius gentayangan meski dhuhur belum lewat.

“Mereka sangat sensitif. Pelan-pelan ya,” kata Yongky.

Tak butuh waktu lama, tiga anakan tarsius kompak melongokkan muka kepada kami. Mata besar yang mendominasi wajah dan bulu coklat melongok kepada kami yang ada di bawah.

tarsius4

Tokoh utama: tarsius. Kalau tak jeli susah sekali menemukan mereka. Ukurannya mungil dan warnanya mirip dahan.

Senangnya bukan main. Misi kami untuk berjumpa dengan primata dari genus Tarsius, suatu genus monotipe dari famili Tarsiidae, satu-satunya famili yang bertahan dari ordo Tarsiifor itu tercapai.

Gampang-gampang sulit bersua dengan mata belok itu. Bulu coklatnya mirip benar dengan dahan pohon, sudah begitu ukurannya benar-benar imut. Tak lebih dari segenggaman jari. Tak menyiakan kesempatan, kamera pun kami bidikkan.

“Beruntung sekali kalian, mereka muncul jam segini,” kata Yongky.

Sebab, lanjut dia, banyak wisatawan yang bertukar cerita harus menanti tiga hari tiga malam untuk mendapatkan potret si monyet kecil itu. Bahkan jika berburu ke Tangkoko.

Sayangnya, foto yang kami dapatkan jauh dari kebanyakan aksi tarsius yang saya lihat di perangko berpuluh tahun lampau. Kami tak mendapatkan tarsius yang nemplok di dahan pohon dan dia menolehkan kepalanya ke kanan. Kami merekam tarsius yang melongok dari atas sehingga tak semua badannya terlihat jelas.

Sudah menanti berjam-jam kemudian pose mereka tak juga berubah. Lelah dan dan mereka juga mengajak main petak umpet.

Menurut Yongky kesulitan untuk bertemu langsung dengan tarsius baru belakangan ini. Jumlah tarsius di Pantai Ratulangi itu sudah terjun bebas.

tarsius2

Tuan rumah, Yongky Lengkong: dia pernah memelihara tarsius dan pernah menyaksikan induk tarsius menangis saat anaknya tewas.

“Dahulu banyak sekali, kemudian diburu. Saya bahkan memelihara satu indukan,” kata dia.

Untungnya sebelum tarsius itu benar-benar punah, undang-undang yang memasukkan tarsius sebagai binatang langka segera diperkenalkan kepada penduduk setempat. Padahal sih tarsius sebagai satwa yang dilindungi sudah diatur pada UU No 5/1990 dan PP No. 7/1999. Tapi, memang sosialisasinya membutuhkan waktu.

Selain itu kalau mengacu kepada IUCN (2008), tarsius masuk dalam Red Data Book IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources). Artinya, tarsius masuk kategori vulnerable (rentan).

“Sekarang tak ada lagi perburuan dan smeoga jangan ada lagi yang berburu,” kata Yongky.

Ya, siapa lagi kalau bukan kita yang menjaganya!

 

 

Iklan

2 thoughts on “Melongok Tarsius di Tepi Pantai Ratulangi, Sulawesi Utara

  1. Ping-balik: Mampir ke ‘Terminal’ Penyu-penyu Dunia di Toloun, Sulawesi Utara | femidiah

  2. Ping-balik: Gondok Menunggak Satu di Antara “3 B” Manado | femidiah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s