(Sebaiknya) Jangan Datangi Kampung Naga di Hari Sabtu

kpnaga1

Dari jalan raya, Kampung Naga terlihat sebagai sekelompok rumah dengan atap seragam. Disarankan tidak mengunjungi lokasi itu di hari Sabtu, juga Selasa dan Rabu.


“Tidak perlu sepatu trekking. Jalur pendek dan bukan jalan tanah. Jalan kaki paling 20 menit sudah sampai, tidak seperti trekking ke Badui Dalam,” pesan Niko yang menjadi pemimpin perjalanan di awal Maret lalu. Saya dan enam teman lain mengangguk saja.

Dengan datang kepagian, kami mempunyai waktu longgar untuk mengatur bekal yang dibawa. Lagipula kalau memang tak terlalu jauh dari ‘peradaban’ bisalah nanti jajan di sepanjang jalan.

Eh, kebetulan saat berjalan ke jalur Kampung Naga kami berjumpa Mang Endut, salah satu penduduk Kampung Naga yang juga salah satu guide, berpengalaman. Sedikit memaksa kami minta didampingi.

Beruntung dia tak keberatan. Malah, kemudian Mang Endut antusias menjawab pertanyaan ini itu yang saya dan enam rekan seperjalanan ajukan selama perjalanan menuju Kampung Naga. Benar kok, jalan ke Kampung Naga tak sampai jam-jaman seperti ke Badui Dalam atau seperti ke Waerebo di Flores.

Sudah terbiasa dengan tugasnya, Mang Endut menceritakan banyak hal, termasuk sebuah kunjungan yang—menurut saya—kurang tepat dilakukan hari ini, Sabtu di pertengahan Agustus.

“Kami punya pantangan untuk tak menceritakan sejarah dan segala acara adat pada Selasa, Rabu dan Sabtu,” kata Mang Endut.

kpnaga2
Dengan batasan itu kami pun berhati-hati menanyakan asal muasal kampung yang terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Selawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat itu. Tapi sesekali sih tetap mancing, tapi Mang Endut sama sekali tak tergoda atau kelepasan memberikan jawaban.

Hari pantangan itu hanya sedikit dari hari-hari khusus di Kampung Naga. Mayoritas memang mengikuti hari raya Islam, agama yang dianut para penduduk Kampung Naga, namun banyak tradisi yang masih dijalankan para penduduk asli Kampung Naga. Makanya, daftar hari ini harus begini dan hari lainnya harus begitu masih cukup panjang.

Kampung Naga memang istimewa. Mereka setia menjalankan adat di dalam kampung. Padahal, itu tadi, lokasinya hanya sepelemparan batu dari jalan antarkota Garut dan Tasikmalaya.

Tapi, mereka memang membatasi wilayah dengan pagar alamai dan buatan. Pagar raksasa berupa Sungai Ciwulan, Gunung Cikurai dan Hutan Larangan tak pernah dilanggar. Batas wilayah lain amat kontras, berupa pagar buatan dari anyaman bambu atau parit kecil. Tapi, bahkan itupun dianggap setara tembok Berlin saat masih kokoh.

kpnaga4
Batas wilayah itu bukan hanya menjadi batas geografis Kampung Naga dengan kampung terdekat, tapi juga menjadi batas kultur dan budaya bagi para penduduknya. Itulah salah satu alasan kenapa atap rumah tampak seragam dari tepi jalan raya yang lokasinya lebih tinggi ketimbang kampung itu.

“Kami hidup bersama alam bukan sekadar di alam. Kami mempertahankan gaya hidup bukan hidup bergaya,” kata Mang Endut.

Misalnya, lanjut dia, tak ada listrik dari PLN meski ada aki untuk sumber nonton TV. Tak ada mesin selep padi meski mereka menghasilkan beras sendiri. Tak ada yang pakai kompor gas tapi memasak pakai kayu bakar atau minyak tanah.

Jadilah ibu-ibu yang asyik menumbuk padi dengan alu sembari sesekali ngerumpi masih jadi pemandangan yang sangat biasa. Yang bapak-bapak ramai-ramai menyusun atap yang ternyata dibuat dari ijuk kelapa berlapis-lapis.

Kemana anak-anak? Mereka tetap seperti anak-anak pada umumnya: bersekolah di pagi hingga siang hari dan baru ramai di kampung setelahnya.

kpnaga3
Ya, anak-anak tetap bersekolah. Para penduduk juga terbuka dengan Undang-undang dan peraturan yang dibuat negara. Seperti, saat pemilu, ya, mereka ikut nyoblos.

Kembali ke soal rumah di Kampung Naga, tak hanya soal atap yang tak biasa. Bangunan panggung berpondasi batu alam dengan bentuk trapesium juga cukup istimewa.

“Ini tahan gempa. Kalau di kota suruh keluar gedung kami justru masuk ke dalam rumah. Aman, tidak akan rubuh,” kata Mang Endut.

Bukan cuma atap yang seragam tapi komposisi rumah juga seragam. Semua punya dua pintu, satu untuk ruang tamu satu lagi akses keluar masuk dapur.

Yang bikin unik dan ‘wow’ banget pintu ini punya desain khusus. Untuk dapur anyaman dibuat sedemikian rupa agar kalau terjadi kebakaran bisa cepat terdeteksi. Adapun, pintu ruang tamu dibuat dengan tujuan agar yang punya rumah bisa mengintip keluar, tapi yang di luar tak bisa curi-curi pandang ke dalam.

Saat ini, Mang Endut bilang, kampung dengan luas 1,5 hektar menampung 113 bangunan dan didiami 108 kepala keluarga. Lengkap pula dengan masjid, balai pertemuan dan lumbung padi.

Sawah dan area kamar mandi tidak masuk di dalam kawasan itu. “Sawah dan kamar mandi di luar kawasan ini, dibatasi parit dan pagar bambu,” kata Mang Endut.

Saat ditanya tentang lapangan bola, Mang Endut menjawab, ”Tidak ada. Kalau mau pertandingan sepakbola di kampung tetangga. Ini hanya pemukiman,” kata dia.

Tapi kalau cuma untuk menggocek-gocek bola atau belajar passing masih ada area tanah tersisa. Memang sih belum ada pemain bola yang lahir dari Kampung Naga.

“Kebanyakan kami bertani,” kata Mang Endut menegaskan.

kpnaga5
Dalam kesempatan itu, Mang Endut mengajak kami singgah ke kediaman dia. Istrinya dengan sigap segera menyalakan tungku, memasak nasi, dan menggoreng ikan asin. Juga meracik sambal hijau yang aromanya dasyat.

Sembari terus berbincang kami menyantap sajian makan siang dari keluarga Mang Engking. Tentunya tak ada pembicaraan soal sejarah sampai sore menjelang.

“Pokoknya jangan datang Selasa, Rabu, dan Sabtu ya, saya siap ditanya apa saja soal sejarah selain hari-hari itu, he he he,” ucap dia.

Maret 2014

(terima kasih foto-fotonya Om Ma’mur)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s