Di Mana Pengantin Badui Dalam Bercinta?

badui1Satu rumah adat Badui Dalam dibangun tanpa sekat, dihuni satu sampai dua keluarga. Jadi di manakah pengantin baru Badui Dalam bercinta?


Yuli masih tergolong belia, baru 18 tahun. Tapi statusnya sudah ganda campuran alias beristri.

Awal Juni lalu, dia meminang Saripah, yang umurnya dua tahun lebih muda. Keduanya menikah muda bukan karena tak mendukung program Keluarga Berencana. Bukan pula ke pelaminan karena MBA (married by accident) alias hamil sebelum menikah atau tertangkap basah berbuat tak senonoh.

“Syukurlah, sampai saat ini pertahanan saya tak jebol. Lagi pula untuk apa saya mengikuti kebiasaan di luar karena di sini saya tak kekurangan,” ujar Yuli.

Pernikahan, ia melanjutkan, sudah disiapkan setahun sebelumnya sesuai dengan peraturan di Desa Cibeo. Mereka tak berpacaran lazimnya remaja di kota-kota.

“Kalau puun (pemimpin adat) dan orang tua sudah menilai kami dewasa, maka akan ada perjodohan dan lamaran,” jelas Yuli.

Pernikahan pun otomatis digelar berjarak 12 purnama kemudian. Tak banyak persiapan yang dilakukan.

Pakaian mempelai pun selayaknya baju sehari-hari.  Sarung pendek dan kemeja tanpa kerah berlengan panjang dengan sulaman sederhana untuk pria.

Busana pengantin mempelai wanita juga amat biasa. Kain panjang dipadu dengan atasan serupa milik pengantin pria.

“Kami tidak memilih. Mereka yang mencarikan baju putih dan memberi sedikit riasan di wajah,” katanya.

Tak ada pesta mewah dengan musik dangdut atau campur sari yang ingar-bingar selama tiga hari menjelang resepsi seperti di kampung-kampung Jawa. Nihil lampu-lampu sorot berkekuatan tiga sampai empat kali lipat dari langganan sehari-hari. Menu santapan pun terbatas ayam.

Ya, Yuli masih terikat hukum adat istiadat Badui Dalam yang masih dijalankan dengan ketat. Dia warga Desa Cibeo, satu dari tiga desa yang ada di Badui Dalam. Dua lainnya Cikeusik dan Cikertawana.

badui2

Informasi hukum adat Badui Dalam bisa diunduh dengan mudah di Internet. Ibarat makan, bisa jadi akan membuat kekenyangan saking banyaknya yang memuat.

Namun, saat tiba di lokasi kami selalu saja masih dibuat kikuk dengan peraturan yang tak biasa itu. “Oh, iya, mereka tak boleh melakukan ini-itu.” Kerap kali kalimat itu terucap.

Seperti saat saat dan beberapa rekan seperjalanan  keluar rumah kemudian mengambil sandal. Kami masih khawatir salah ambil dengan sandal warga setempat.

“Oh, iya mereka kan enggak memakai sandal.”

Atau ketika dengan culun saya bertanya kepada Yuli, “Mana foto pernikahannya, pasti asyik.”

Eh, dia hanya tersenyum. Otomatis hanya bisa tepok jidat sembari berucap, “Oh, iya, enggak boleh foto.”

Ke-10 teman perjalanan saya yang rata-rata baru pertama kali berkunjung ke Badui Dalam mengalami pengalaman serupa: belum terbiasa dengan adat tuan rumah.

Tapi kampung ini menjadi asyik. Selain penduduknya yang ternyata sudah open kepada wisatawan. Pemandangan ke langit saat rebahan juga akan luar biasa. Sebab, tak ada kabel PLN yang saling silang di sana.

Yang paling terasa adalah tak ada ribut-ribut akibat minimnya sinyal telepon seluler.

Namun jangan sebut hoax karena tak ada bukti foto atau video. Sebab, ya itu tadi, peraturan adat Badui Dalam melarang mesin, termasuk penggunaan kamera.

Kekagetan saya masih terus berlanjut setelah memasuki rumah berdinding bilik dan beratap jalinan daun kelapa. Lantai rumah cukup bersih meski mereka jalan naik turun bukit tanpa sandal. Rupanya, ada kewajiban membasuh kaki sebelum masuk rumah. Air-air di dalam selongsong bambu disediakan di samping pintu masuk.

Ada yang unik lagi di dalam rumah adat Badui Dalam. Tak ada kamar khusus untuk orang tua dan anak-anak.

Di dalam rumah itu hanya ada satu sekat yang memisahkan ruang utama dan ruangan yang lebih kecil. Ruangan yang lebih besar ditambah dapur sedangkan yang lebih kecil hanya los kosong.

“Sekat itu untuk membedakan keluarga satu dengan yang lain,” kata Ardi, 52 tahun, ayah Yudi.

Oalah…ternyata satu rumah dihuni satu sampai dua keluarga.

Spontan saya menanyakan kepada Yuli: “La, kalau gituan di mana?”

Yuli terkejut mendengar pertanyaan saya. Dua menit berselang, barulah dia senyum-senyum.

“Waduh, tanya soal peraturan adat saja, jangan yang begitu,” kata Yuli.

Tapi rupanya dia kepikiran juga. “Wah, iya, saya jadi kepikiran.”

Memang, lanjut dia, prosesi begituan tak bisa berlama-lama dan harus sabar menunggu suasana sepi. Beruntung sih di kampung itu memang dilarang ada listrik. Jadi kalau matahari sudah tenggelam dan bulan malu-malu kampung akan gelap gulita.

“Kadang-kadang tak tuntas juga, Teh,” ucapnya tersipu-sipu.

Perbincangan kami pun mengalir dari satu pokok bahasan ke bahasan lain. Ngobrol memang menjadi satu-satunya cara untuk menghabiskan waktu saat bermalam di Badui Dalam.

Kami tidak ingin menyia-nyiakan waktu satu malam yang diberikan, lagi-lagi peraturan adat yang membatasi tamu menginap. Lagipula, obrolan berlangsung makin gayeng justru karena minimnya penerangan.

Kami ngobrol dengan cahaya dari sebuah ublik alias senter di dalam rumah. Asam kranci yang luar biasa asem dan gula aren bebas semut kendati ada di wadah tak berpenutup menjadi teman diskusi segala macam topik malam itu. Kalau butuh madu, langsung minta saja kepada tuan rumah.

Waktu yang lumayan pendek sebenarnya, tapi berkah untuk kita yang benar-benar berdarah Indonesia. Sebab, orang asing dalam artian dari negara lain sama sekali dilarang mendekati Badui Dalam, apalagi masuk kampung.

“Sejak zaman penjajahan Belanda dulu, mereka tak bisa masuk,” kata Ardi.

Saat ini memang sudah ada warga yang ditunjuk sebagai petugas keamanan desa. Mereka berjaga-jaga di garis batas desa. Puun memegang kendali pemerintahan masing-masing desa Badui Dalam. Tak bekerja sendirian, dia dibantu jarok (wakil puun) dan ada semacam menteri, yang dinamai baresa.

Ya, masyarakat Badui Dalam justru sangat terbuka terhadap segala macam informasi. Sikap diam mereka saat jumpa pertama sirna dan berganti celoteh. Bahkan, di sepanjang perjalanan dari Terminal Ciboleger hingga melewati jalan landai, tanjakan, kemudian turunan selama kurang-lebih tiga setengah jam, mereka tak henti menjawab pertanyaan-pertanyaan kami.

Malah justru kami yang kewalahan. Dengan medan yang aduhai itu, kadang-kadang telinga sudah dalam tahapan tak mendengar dengan jelas, berburu dengan napas yang ngos-ngosan.

Bocah-bocah kecil yang tampak unik dengan pakaian adat pun menjawab sapaan. Para wanita dewasa sedikit malu-malu tapi masih mau memandang para tamu. Kondisi itu berbeda dengan sebagian besar anak-anak Badui Luar, yang langsung ngibrit masuk rumah saat disapa.

Warga Badui Dalam juga sangat terbuka menerima pedagang dari luar kampung yang menjajakan mi instan, kopi, sampai jajanan anak-anak. Namun mereka sendiri berjualan hasil ladang.

Hmm… terbayang perjalanan pulang masih tiga setengah jam dengan rute yang landai, tanjakan, turunan, bebatuan, dan tanah merah.

“Let’s go!” Begitu aba-aba Yuli, yang lagi-lagi membuat saya terenyak.

Iklan

2 thoughts on “Di Mana Pengantin Badui Dalam Bercinta?

  1. Ping-balik: Tips Perjalanan ke Badui dan Hal-hal Menarik Lainnya | femidiah

  2. Ping-balik: (Sebaiknya) Jangan Datangi Kampung Naga di Hari Sabtu | femidiah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s