Kisah Jasad Romeo dan Juliet di Gua Londa, Toraja

toraja

Emas, uang, surat-surat tanah, dan ijazah disertakan dalam peti mati dalam pemakaman di goa-goa di tanah Toraja sana. Ada semua kisah legendaris di Goa Londa.


Tanatoraja menjadi tempat wisata primadona di Sulawesi Selatan. Gua-gua raksasa dijadikan lokasi pemakaman. Semakin tinggi posisi jenazah, maka makin tinggi pula kasta si empunya. Juga tersimpan kisah serupa Romeo dan Juliet.

Tak ada bau anyir atau busuk yang mengganggu hidung saat saya memasuki Gua Londa meski puluhan tengkorak dan tulang-belulang tersebar di lantai serta dinding. Yang ada hanya hawa lembap diselingi bau tak enak kayu-kayu lapuk yang berbaur timbul-tenggelamnya bau tembakau basah dari rokok dan baju-baju apak yang tersebar di pinggir peti-peti jenazah.

Tapi semua itu tak menghalangi 300-an peziarah tiap harinya. Ada yang hanya ingin mejeng memenuhi rasa ingin tahu kemudian mengabadikan lewat kamera ponsel atau kamera SLR. Ada pula yang benar-benar berkunjung dengan membawa ransum berupa rokok, makanan, dan minuman.

Gua Londa di Desa Makale itu satu dari tiga blok pemakaman gua alam Toraja di Sulawesi Selatan. Di sana bertumpuk tulang-belulang berusia ratusan tahun sampai yang terbaru.

Ya, adat aluk to dolo atau orang-orang zaman dulu di Toraja tak mengenal pemakaman di dalam tanah atau kremasi. Menurut mereka, pemakaman itu menyimpan jenazah di gua atau dinding tebing. Bisa juga dalam rumah semen berukir.

“Pemakaman terakhir lima bulan lalu. Petinya di sebelah sana,” kata Mansyur, tukang petromaks yang kami paksa menjadi guide.

Saya masih tak habis pikir dengan kesantaian Mansyur menunjuk-nunjuk peti dan tengkorak serta tulang di dalam gua. Tak sedikit pun jeri seperti yang saya dan pengunjung lain rasakan.

“Foto di sini saja bagus, tengkorak-tengkoraknya akan jelas.” Atau saat dia menunjuk sudut gua yang buat kami cukup mengerikan disertai kalimat, “Pose di situ saja, akan kelihatan lebih menyeramkan.”

Mansyur kemudian menunjuk lantai gua. “Itu pasangan Romeo dan Juliet. Mereka berpacaran tapi tak direstui oleh keluarga kemudian kompak bunuh diri,” ujarnya.

Sejoli itu tak direstui lantaran masih terkait keluarga, yang haram menikah. Para tetua sepakat memakamkan keduanya bersamaan dalam satu peti.

Kejadian itu kian menambah sohor pemakaman Londa, yang memang istimewa karena ditempati banyak jasad dari strata bangsawan. Tapi jangan dikira mereka tetap tinggal dalam peti berdua. Pasangan Romeo dan Juliet itu terhampar di tanah begitu saja. Tulang mereka lebih awet daripada peti jenazahnya.

toraja2
“Mayat itu diberi formalin. Dulu memang ada rempah-rempah khusus, tapi sekarang tak populer lagi,” kata Mansyur.

Dia kemudian menunjukkan lorong yang hanya bisa dilewati dengan jalan jongkok. Mansyur “memaksa” kami melewati lorong itu menuju chamber alias ruangan luas ke kedalaman berikutnya. Kontur gua memang berubah, tapi aksesori di dalamnya sama.

“Lorong itu menghubungkan ruangan pemakaman lagi, tapi terlalu sempit untuk dilewati,” kata Mansyur.

Beberapa kisah dituturkannya sambil sesekali menginstruksikan kami untuk berfoto. Kami pun jadi terbiasa dekat-dekat tengkorak, tulang, dan peti jenazah.

Setelah puas, kami menikmati pemandangan dinding tebing luar gua. Di sana bersemayam peti-peti jenazah yang umurnya ratusan, puluhan, dan beberapa tahun lampau.

“Semakin ke atas lokasi peti menunjukkan tingkat kekayaan saat masih hidup,” kata Mansyur.

Bukan lantaran bentuk penghormatan semata, tapi juga keamanan. Sebab, pemakaman ala Toraja punya tradisi menyertakan kekayaan. Dari emas, uang, surat-surat tanah, ijazah, sampai apa pun yang sempat diinginkan semasa hidup.

Pada dinding tebing itu juga tersimpan boneka kayu sebagai simbol orang yang dimakamkan di sana. Mereka dipajang bak manekin di etalase toko pakaian.

Boneka itu didandani dengan pakaian warna-warni dan berpose berdiri atau duduk manis. Jajaran boneka itu sohor menghiasi majalah dan koran ataupun panduan traveling.

Blok lain pemakaman serupa ada di Kete Kesu’ di Desa Rantepao dan Lemo. Kete Kesu’ punya halaman luas tempat tangkoko alias rumah adat Toraja berjajar. Rumah-rumah itu yang menjadi bahan gambar di kartu pos atau panduan traveling.

Soal suvenir tak sulit ditemukan di dua area pemakaman itu. Puluhan kios berjajar di halaman sampai di dalam area pemakaman.

Sayang, saya datang saat tak ada prosesi pemakaman. Kabarnya, ada hamparan kain merah dari rumah duka sampai pemakaman. Juga atraksi adu kerbau. Tapi tetap saja tak mengurangi kenikmatan ziarah yang membutuhkan perjalanan selama tujuh jam dengan jalur darat dari Makassar itu.

April 2013

Iklan

2 thoughts on “Kisah Jasad Romeo dan Juliet di Gua Londa, Toraja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s