Menggiring Kabut Dieng Plateau, Wonosobo

dieng

Dataran tinggi Dieng di Wonosobo, Jawa Tengah menjadi primadona wisata sejak dulu. Keindahan alam, candi, sejarah, dan tradisi menjadi paket liburan mengasyikkan. Kami mengejar sunrise sekaligus menggiring kabut dari puncak Sikunir.

Dieng mulai mempopulerkan pemotongan rambut gimbal anak-anak yang diyakini keturunan raja lewat sebuah festival. Saya dan empat teman dari Jakarta berkesempatan menyaksikannya di tahun 2012.

Kala itu, festival sedang jadi rintisan. Tapi, kami tak hanya ingin menyaksikan ritual unik tersebut.

Kami berlima ingin turut merasakan dingin udara pada dini hari di puncak Sikunir. Kami juga berharap dapat menyaksikan santunnya matahari menggiring kabut di dataran tinggi tempat para dewa dan dewi bersemayam.

Keinginan itu semakin kuat pada malam sebelum kami benar-benar menyaksikan keindahan tiada tara itu.

“Jangan terlambat bangun ya, karena matahari tak mau menunggu,” pesan Mas Didik, penduduk lokal yang menjadi pemandu kami selama di Wonosobo.

Karena pesan itu dan tak betah hawa dingin yang menusuk kamipun bersegera untuk kembali ke kamar. Tidur menjadi pilihan.

Rasanya baru tidur sekejap tapi adzan Subuh sudah berkumandang. Kantuk dan lelah lenyap. Tinggal hawa dingin yang menusuk-nusuk tulang.

Perjalanan menggiring kabut sudah menjadi pemantik luar biasa semangat kami pagi itu. Selesai sholat subuh kami pun bergegas meempersiapkan diri.

Jaket, kaos kaki, kaos tangan dan balaklava langsung terpakai. Saat keluar dari kamar berrrr…. dingin kian menggigit. Syukurlah sarapan setangkup roti dan teh hangat sarapan menanti.

Namun dingin kembali mencegat saat keluar bangunan. Sarapan kebas tak berasa lagi.

“Syukurlah tidak gerimis. Ini kesempatanku pertama menyaksikan matahari terbit dan kabut pergi meski saya tiga kali saya ke sini sebelumnya,” kata Ami Afritani, salah satu anggota rombongan.

Tak mau cuaca berubah kami pun segera merapalkan doa. Rupanya kaki bukit berada di desa yang berbeda dengan penginapan kami. Kami harus menuju Desa Sembungan dengan mobil. Kalau jalan kaki lumayan, tapi dengan moda roda empat ini waktu tempuh hanya sekitar 10 menit.

dieng1

Belum juga memulai perjalanan trekking kami sudah disambut dengan danau luas. Saya yakin danau ini akan berkilau setelah matahari datang.

Dini hari itu suhu mencapai 6 derajat Celcius. Pantas, semua perbekalan “perang” rasanya tak cukup. Dingin masih menembus bebas tanpa kami bisa mencegah. Asyiknya perjalanan tak senyap. Banyak rombongan lain yang ikut serta pada trekking kali ini.

Tak sabar kami pun memulai perjalanan. Trek awal masih cukup ramah, namun lama kelamaan menanjak dan curam. Jalur setapak ini cukup menyenangkan, sama sekali tak melelahkan.

Ya, kabut dan dingin ini justru memaksa kami terus bergerak. Jurang menganga di sebelah kiri tak cukup mengurangi keinginan kami untuk segera mencapai puncak.

“Ini bukan trekking guyonan,” kata Ratna Puspita, teman serombongan pula.

Apalagi kami harus bergegas karena kabut sudah mulai terusir. Langit mulai terang. Namun keinginan untuk tak melewatkan momen semburat jingga di langit juga tak bisa ditinggalkan. Dilema.

Maka, kami memilih untuk berhenti sejenak, foto sesaat, lantas bergegas menuju puncak. Tak lebih dari 20 menit kami tiba di banyak pengunjung berhenti. Namun kami memilih untuk berjalan ke kanan dan naik sebentar.

“Ini tempat terbaik untuk melihat sunrise,” pesan Mas Didik. Tak hanya itu kami seperti ada di atas awan. Tiga rupa gunung nampak di seberang. Gunung Sindoro, Sumbing dan Merapi terlihat gagah dari sini. Benar-benar ini lukisan indah sang pencipta.

Rupanya sudah ada rombongan lain yang tiba lebih dulu. Mereka siap dengan peralatan kamera canggih dan tripod, kami lumayanlan membawa LSR, kamera pocket dan ponsel berkamera.

“Pokoknya memaksimalkan peralatan yang ada saja,” celetuk Delia Mustikasari.

Kelakar itu setidaknya bisa mengusir dingin yang tak juga berkurang meski kami sudah berjalan cukup lama dan langit kian terang. Berbagai pose kami pilih untuk mengabadikan kelahiran matahari pagi itu. Sekaligus kami mengantar kabut yang perlahan pergi.

Iklan

One thought on “Menggiring Kabut Dieng Plateau, Wonosobo

  1. Ping-balik: Menyaksikan Ritual Pemotongan Rambut Gimbal di Dieng Plateau, Wonosobo | femidiah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s