Malaikat-malaikat Tak Bersayap di Perjalanan

Malaikat halal: Keluarga muslim di Wuhan, Cina menjamin saya dan teman seperjalanan tak kesulitan menyantap menu halal

Malaikat halal: Keluarga muslim di Wuhan, Cina menjamin saya dan teman seperjalanan tak kesulitan menyantap menu halal

Kadang tak kau lihat
Terkadang malaikat tak bersayap
Tak cemerlang, tak rupawan
(Dewi Lestari, Malaikat Juga Tahu)

Menanti kedatangan kopaja atau metro mini di Jakarta memang setara menunggu jodoh. Tak jelas kapan datangnya. Kalaupun datang, kondisi bisa penuh sesak dan tak nyaman. Semoga jodoh tak sebobrok metromini atau kopaja di Jakarta.

Pengalaman serupa kami alami akhir pekan lalu. Saya dan ketiga rekan–Niko Wazir, Ma’mur Sudrajat, dan Andi ‘Akap’ Kusuma– dibuat cemas tak kepalang saat menunggu metro mini 41 ke arah Kampung Tugu, Jakarta Utara. Hari makin siang, tapi moda yang kami harapkan tak kunjung datang.

Sejak dari Ragunan perjalanan kami memang tak santai. Kini, setelah tiba di Permai Koja, kami lagi-lagi harus menunggu. Kalau dihitung-hitung kami sudah menghabiskan tiga jam dari titik start sampai di sini. Dan ini belum finis.

Sudah begitu, kami bertiga sama sekali tak paham kawasan Priok ini. Kami hanya mengandalkan GPS di smart phone.

Ya, tak satupun dari kami yang menguasai area ini. Apalagi lokasi Gereja Tugu yang kami tuju. Beberapa teman yang mengaku gede dan besar di Jakarta juga tak paham. “Pokoknya di sana.”

Yang pernah ke sana juga tak tahu-menahu angkutan umum yang digunakan. Kebuntuan terjawab setelah kami ngobrol dengan tukang ojek di sebrang jembatan trans Jakarta Permai Koja. Dia bilang naik saja metromini nomor 41.

Setelah setengah jam terlampaui, kami nyaris menunjuk angkutan alternatif. Tapi, kemudian metromini 41 muncul dari pengkolan. “Akhirnya datang juga…,” celetuk Niko.

Akhir pekan semestinya jadi pilihan ideal untuk berjalan-jalan. Tapi, start kepagian ternyata bukan pilihan sip.  Tak lama setelah mendapatkan duduk di dalam metromini, kami ngantuk bersama dan zzz….. Eh, bangun-bangun kami tiba di daerah yang semakin tak dimengerti.

Pepatah malu bertanya sesat di jalan memang amat melekat di kepala. Kami pun bertanya kepada beberapa penumpang lain.

Si bapak yang kemudian kami ketahui namanya Mulyadi menerangkan dengan detail lokasi Gereja Tugu yang disebut-sebut sebagai tinggalan Portugis itu.

Bukannya semakin jelas, kami malah makin linglung. Mungkin kasihan melihat kebingungan kami berempat, Mulyadi malah berniat mengantar kami sampai lokasi. Dia kemudian mengatakan: ikuti saya saja nanti. Sempat waswas, tapi kami patuh saja.

Termasuk saat dia memberikan instruksi pindah kendaraan ke angkot 02. Kami manut. Dia juga yang mempunyai inisiatif turun dari angkot 02 sebelum tiba di lokasi. “Jalan kaki saja, sudah tak begitu jauh. Kalau menuruti macet kita tak akan sampai,” ucap dia. Menurutnya, macet di proliman tugu memang sudha biasa.

Setelah sampai di dekat gereja tugu, Mulyadi menyapa orang-orang yang dikenalnya. Rupanya, dia adalah sosok yang cukup familiar bagi masyarakat Kampung Tugu. Asyik saja dia bercengkerama dengan penjaga gereja dan saling menyebutkan nama si ini dan si itu.

Obrolan selesai. Dolan ke Gereja Tugu tuntas. Namun, tiga lokasi lain yang kami rencanakan masih menanti: rumah si pitung, masjid Al Alam dan batik betawi seraci.

Namun membayangkan persaingan angkutan dengan truk tronton dan truk bermuatan peti kemas membuat kami nyaris memutuskan pulang. Tapi, Mulyadi bilang: gampang itu enggak jauh kok dari sini. Kami pun akhirnya menetapkan Mulyadi jadi guide.

Dan rencana justru berjalan lancar. Mulyadi bersemangat mendampingi kami. Rumah si pitung tercapai. Masjid Al Alam di Marunda Besar, Cilincing yang dikenal sebagai tempat bermain si Pitung saat masih bocah.

Masjid itu juga dikenal mempunyai sumur dengan tiga rasa air yang berbeda. Juga legendaris sebagai masjid yang tak pernah kebanjiran meski air pasang dan musim hujan serta banjir mendera daerah sekitar. Konon, masjid itu dibangun dalam waktu hanya satu malam.

Pengalaman yang unik. Tiga destinasi itu kami temukan dengan lebih mudah setelah bersua Mulyadi.

“Belum tentu kita bisa menemukan lokasi kalau tidak bertemu Pak Mulyadi ya,” celetuk Akap yang diamini Ma’mur dan Niko.

Pengalaman tak terduga juga terjadi saat saya dan dua teman perempuan, Ria Amanah dan Elin Rosalia, berkunjung ke Gunung Argopuro beberapa tahun lalu. Saat tiba di pelawangan dan berniat menggapai puncak, carrier dengan logistik dan baju ganti kami tinggalkan di dalam tenda. Kami hanya membawa daypack dan barang-barang berharga seperti dompet, uang saku, minum, dan makanan secukupnya serta kamera.

Waktu itu waktu tempuh menjadi pertimbangan. Kami memperkirakan perjalanan mencapai puncak akan lebih singkat dengan hanya membawa peralatan dan perlengkapan yang kami butuhkan. Sisanya, ditinggal di pelawangan.

Perkiraan kami pas. ternyata ada dua punggungan yang harus kami lewati untuk menemukan puncak pretama seperti peta yang kami bawa. tapi, rupanya masih ada puncak puncak kedua dan puncak itulah yang merupakan puncak tertinggi. Informasi itu kami dapatkan dari rombongan pendaki lain yang kebetulan hampir bersamaan tiba di puncak pertama.

Matahari makin panas. Jadi, keputusna kami tepat untuk meninggalkan sebagian besar perkap di tenda. Bergegaslah kami menuju puncak kedua. Setelah berfoto dan dan mengabadikan lokasi agar enggak dibilang hoax kalau kami sudah benar-benar menjejak puncak, kami kembali ke plawangan.

Sesampai di plawangan ternyata rombongan yang semalam mendirikan tenda berdekatan dengan tenda kami masih tinggal. Padahal, mereka sudah sampai di plawangan saat kami bernagkat menuju puncak.

“Kabarnya kurang aman, makanya kami tunggu sampai rombongan Mbak tiba di sini lagi,” kata salah satu dari mereka.

Tak ada kata lain yang kami ucapkan kepada rombongan yang bahkan tidak kami kenal itu. “Terima kasih ya, Mas. Terima kasih. Terima kasih,” ucap kami berbarengan.

Setelah itu, mereka bergegas turun. Ya. mereka ‘malaikat’ yang sudah rela membuang waktu untuk menunggu tenda kami. Grup yang tak dikenal.

Sebelum berpisah mereka berpesan agar kami tak menginap di sembarang tempat, warung atau rumah penduduk saat tiba di desa terakhir pendakian nanti. Sebab, sekarang ini acapkali pendaki kecurian. Bahkan mereka yang menginap di pos pendakian.

Pesan itu belum kami pikirkan. Toh, dalam rencana operasional kami berniat menginap satu malam lagi di tengah perjalanan.

Barulah setelah sampai di desa terakhir pendakian, kami memikirkan kata-kata mereka. Apalagi kami harus menginap karena angkutan Kami pun mencoba mencari jalan keluar sembari mengisi perut di warung.

Saat makan di warung itu, tiba-tiba muncul seorang bapak yang memperkenalkan diri seorang polisi. Meski kehadiran polisi di jalan raya sering kali bikin keki, kali ini kami menaruh kepercayaan tingkat tinggi untuk mendapatkan solusi.

Si bapak menunjukkan kalau ada sebuah penginapan di seberang jalan. Kondisinya bersih dan besoknya tak perlu bersusah payah saat menanti bus karena angkutan menuju Probolinggo lewat depan penginapan itu.

Tak banyak cingcong kami tunduk. Si bapak malah mengantarkan langsung. Usai ditunjukkan kamar oleh receptionis si bapak pamit pulang.

Keesokan harinya, saat kami hendak membayar sewa kamar.

“Wah sudah dibereskan oleh bapak yang kemarin Mbak,” ujar si receptionis.

Serentak kami berucap: “Alhamdulillah…..”

Namun kemudian bersambung dengan tanda tanya besar. Saat kami lewat kantor polisi dan mengonfirmasi nama si bapak, kompak semua yang bertugas pagi itu tak mengenal nama si bapak itu.

Walah kami belum sempat mengucapkan terima kasih kepada si bapak ‘polisi’ itu.

Sebelum terlupakan di makan jaman, kisah ini saya dedikasikan untuk para malaikat di jalanan. Mereka menjadi salah satu alasan saya selalu menyukai #perjalanan.

Juli 2013

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s