Menyaksikan Tinggalan Belanda di Asrama Inggrisan, Banyuwangi

inggrisan5

Taman Nasional Baluran memang jadi tempat wisata primadona di Banyuwangi. Tapi, di area tengah kota juga tak sedikit lokasi yang bisa jadi jujugan pelancong di saat liburan, salah satunya Asrama Inggrisan.

Sebuah gapura putih dengan nama dan alamat jelas di atas plang berwarna kuning menyambut saya dan empat rekan seperjalanan, Yusmei Sawitri, Ropesta Sitorus, Agustin Rinrin dan M. Shava pada akhir Mei lalu. ASRAMA INGGRISAN di baris pertama. Jl. DIPONEGORO NO. 05 pada baris berikutnya.

Asrama itu ada di Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Beberapa pria berseragam loreng dan bersepatu lars wara-wiri di area itu.

“Sekarang tempat ini digunakan sebagai asrama para prajurit TNI AD Kodim 0825 Banyuwangi,” kata Kisma Dona, pemandu yang menemani kami selama di Banyuwangi.

Setelah melewati gapura berkapur putih itu kami dihadapkan halaman yang cukup luas. Dua pohon sawo, ring basket, dan sebuah rumah panggung berdiri kokoh tepat di hadapan.

Di sisi kiri jalan masuk, sebuah rumah yang juga mempunyai banyak pintu terpisah dari bangunan utama.

Kami memilih menyambangi bangunan utama yang lurus saja dari gapura masuk. Izin untuk berkeliling area Asrama Inggrisan tak sulit. Tidak ada penjaga berseragam loreng atau serba hijau dengan helm besi dan bedil yang biasa kita temui di area tentara.

Kami hanya tinggal kulonuwun, memperkenalkan diri kepada salah seorang yang tinggal di sana, kemudian minta izin secara lisan. Kalau sedang tak ada hajat atau kesibukan apapun di area itu, pelancong dibebaskan berkeliling.

Sepertinya, mereka yang tinggal sudah terbiasa mendapatkan kunjungan. Kalau toh sedang tak menerima tamu, mereka bakal berterus terang dan menyilakan datang lain waktu.

Apalagi Dona cukup akrab dengan beberapa kepala keluarga yang tinggal di sana. Bagian perizinan menjadi kian mudah.

inggrisan2
Bangunan utama sudah langsung menarik perhatian. Pilar tebal dan bingkai pintu yang tinggi menjulang mengingatkan saya pada rumah dinas ayah saat bertugas di Magelang, Jawa Tengah. Cuma yang ini miniaturnya. “Ini bangunan tinggalan Belanda,” begitu batin saya.

Bangunan utama itu mempunyai aula dengan banyak pintu di sekeliling dinding. Satu pelantang suara juga dipasang di salah satu tiang bangunan.

“Asrama ini dulunya markas yang bernama Singodilaga kemudian berganti nama menjadi loji,”  kata Dona.

Dona menuturkan kalau bangunan itu memang tinggalan Belanda. Dengan terbuka dia menyebut kalau tidak paham rincian sejarah asrama militer itu. Tapi, dia berjanji akan membawa kami ke komunitas sejarah Banyuwangi yang sedang giat-giatnya menelusuri kemasalaluan Blambangan. Informasi tambahan itu kami dapatkan saat cangkrukan di Museum Sukowidi yang juga ada di Banyuwangi.

Menurut Taufik Ridlwan Bachamis, salah satu pengurus Koseba (komunitas Sejarah Banyuwangi), bangunan itu berkembang sebagai stasiun kabel telegraf. Tapi, bangunan tersebut didirikan jauh sebelum adanya stasiun kabel telegraf ada.

Masih ada perbedaan informasi soal pembangunan asrama militer itu. Ada yang menyebut bangunan itu sudah digunakan sebagai lodge alias loji di lidah Jawa atau penginapan untuk saudagar Inggris yang datang ke Banyuwangi pada periode 1766-1781.

Ada pula yang menyebut bagunan itu didirikan pada tahun 1811 sampai 1816 oleh Letnan Kolonel Meycin S.Y yang merupakan orang Inggris. Dia menikahi wanita Belanda.

Sebagai kelengkapan bangunan, di bawahnya dibangun gorong-gorong yang terhubung dengan Kali Lo dan Boom. Dalam perkembangannya, oleh Belanda, loji itu digunakan sebagai asrama perwira.

Saat Belanda tersingkir dari Indonesia 1886, bangunan itu diserahkan kepada Inggris. Bentrok antar Belanda dan Inggris yang berebut Banyuwangi yang waktu itu lebih dikenal sebagai Blambangan memang cukup awet. Keduanya melihat Blambangan amat strategis sebagai pelabuhan transit, utamanya setelah Australia dikenal sebagai penghasil tambang ini itu.

Nah, stasiun kabel telegraf itu dibuat oleh Inggris. Kala itu, asrama Inggrisan digunakan sebagai kantor dagang. Demi melancarakan komunikasi antara Banyuwangi dengan Australia dibuatlah stasiun kabel telegraf bawah laut.

Dari obrolan dengan Yusmei setelah pulang dari Banyuwangi, dia menemukan data yang dibagikan oleh Komunitas Historia. Dalam salah satu artikelnya mencatat: Pada 1870, seperti ditulis Bill Glover dalam “Dutch East Indies Government”, yang dimuat di http://atlantic-cable.com British-Australian Telegraph Company memasang kabel dengan rute yang sama dan rute lainnya, dari Banyuwangi ke Darwin. Saat itu, Inggris sedang getol membangun jaringan telegraf bawah laut antarpulau.

Saat Jepang yang mengaku sebagai saudara tua datang ke Banyuwangi, bangunan itu digunakan sebagai markas Kanpetai.

Setelah Indonesia sampai 1949, bangunan kembali berubah fungsi sebagai asrama Batalion Macan Putih. Beberapa data menyebutkan, sejak digunakan sebagai asrama militer pada periode ini beberapa detaail bangunan berubah.

inggrisan6
Terkait jaringan telegraf itu, ada satu penanda yang masih tersisa. Penutup gorong-gorong yang bertuliskan Born Brothers, Rotunda Works Blackfriars, London masih tertinggal. Tapi, sejauh ini belum ada yang membuka dan menelusuri ada apa di bawah penanda itu.

Bahkan, kami pun lewat begitu saja kalau tak dipaksa untuk memperhatian oleh Dona. Letaknya yang ada di atas tanah memang tidak menarik perhatian.

Apalagi, tempatnya ada di belakang rumah, berdekatan dengan kandang dan tempat bermain ayam. Di area Asrama Inggrisan juga sama seklai tak ada informasi seperti papan penunjuk atau tulisan soal lokasi itu. Asrama ini memang menunjukkan wajah seasli-aslinya sebagai tempat tinggal prajurit bawahan. Jemuran, dapur umum, dan tempat MCK, juga kandang ayam, dan gudang berada di sana.

inggrisan4
Saat berkeliling di lantai dua kami berjumpa dengan Yunan, salah satu penghuni rumah dinas itu. Yunan menyebut asrama itu memiliki 25 rumah dan dihuni 70 orang.

Yunan sendiri memanfaatkan rumah dinas itu karena rumahnya cukup jauh dari pusat kota Banyuwangi.

“Kalau harus pulang balik rumah ke sini terlalu jauh,” kata Yunan.
inggrisan3
Menurut Yunan, suatu ketika pernah ada usulan untuk merehab bangunan itu. Sebagai penghuni, dia mendambakan tempat tinggal yang lebih baru dan resik. Tapi, karena tak mendapatkan izin–bisa jadi terkait area cagar budaya–untuk pemugaran, bangunan itu masih seindah warna aslinya.

Mei 2013

Iklan

2 thoughts on “Menyaksikan Tinggalan Belanda di Asrama Inggrisan, Banyuwangi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s