Orang Using di Banyuwangi Setia Jalankan Adat Biar Tak Kualat

usinggenjaharum

Suku Using tetap eksis berkat konsisten menjalankan adat yang dimiliki. Adat ditaati biar selamat dan tak kualat.


Banyuwangi berbatasan langsung dengan Bali dan Situbondo, Jember dan Bondowoso. Juga hanya terpisah selat dengan Pulau Bali. Ada satu suku unik yang dimiliki Banyuwangi: Suku Using atau pernah dikenal sebagai Suku Osing. Mereka beragama Islam yang masih setia adat.

Suku Using ini menyebar di seantero Banyuwangi. Sebab, orang Banyuwangi memang orang Using, begitu mereka menyebut. Namun, orang-orang Using yang masih mengimani adat tetua berkumpul di Kemiren, Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur.

Orang Using bukan orang Madura. Juga tak terpengaruh Bali yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Orang Using beragama Islam. Orang Using berbahasa Jawa tapi ada sedikit logat ngapak seperti orang-orang Tegal dan Cirebon.

Sesepuh orang Using di Kemiren, Glagah, Banyuwangi Djohadi Timbul membeberkan adat yang masih dipegang teguh oleh suku ini. Menurut dia adat masih dipegang teguh karena orang Using percaya pelanggaran adat bisa berbuah kualat alias celaka.

Saya bersama empat rekan seperjalanan Yusmei Sawitri, Ropesta Sitorus, M. Shava dan Agustin Ririn serta ditemani Kisma Dona berkesempatan ngobrol dengan Djohadi di Sanggar Genjah Arum, Kemiren. Sudah cukup lama, Mei tahun lalu. beruntung catatan masih oke meski sebagian foto-foto lenyap bersama memory card yang rewel. Sebelum benar-benar mengandalkan ingatan belaka, saya salin di sini.

“Adat, adat, kualat. Siapa yang melanggar adat akan kualat,” ucap Djohadi saat obrolan bergulir tentang adat.

Salah satu tradisi itu diaplikasikan dalam rumah. Atap dan dinding tidak sembarangan. Ada pakem yang harus dituruti.

“Semua ada maknanya, ada filosofinya. Ada tiga kerangka atap rumah yang biasa dibangun oleh Orang Using,” jelas pria yang berulang tahun setiap 3 Juni tersebut.

“Atap cerocogan artinya wis cocok, sudah cocok. Itu melambangkan bersatunya laki-laki dan perempuan dalam pernikahan. Mereka bisa kawin, menikah setelah tidak ada halangan. Kemudian tikel balung yang menunjukkan lika-liku kehidupan berumah tangga, dan baresan melambangkan rumah tangga yang sudah beres, atau berjalan baik.

“Kehidupan juga seperti itu kan. Kalau ingin rumah tangga bahagia,  ada saja jalan berliku, gangguan dan godaan. Kalau kita sudah kuat menghadapi godaan, halangan bisa diatasi, berarti rumah tangganya beres.

genjaharum2“Bahan yang digunakan juga khusus. Hanya kayu putat, tanjang dan bendo yang digunakan. Rayap tidak mau,” jelas dia.

Selain itu, rumah-rumah orang Using mempunyai motif khusus. Di antaranya, matahari, bunga pare, kawung, selimpet dan garis-garis dengan pola yang berhubungan satu dengan lainnya.

“Selimpet tidak berujung pangkal, itu merujuk kepada belas kasih yang tidak ada putus-putusnya. Kawung itu artinya kalau sudah menikah tidak boleh cari lagi,” ucap bapak tiga anak itu.

Dinding rumahnya berupa anyaman bambu dengan dinding kayu berukir di sisi depan yang disebut gebyok.

“Selimpet itu tidak ada ujung pangkal, seperti belas kasih tak berujung. Kalau kawung itu, artinya kalau sudah menikah enggak boleh cari lagi,” kata dia.

Sayang, saya dan rekan seperjalanan tak mampir ke desa Kemiren. Tapi Djohadi mencoba menghibur. Katanya, Sanggar Genjah Arum sudah mewakili rumah-rumah adat suku Using. Hanya saja tak ada kasur hitam merah.

Ya, selain itu ada perabot yang seragam dalam masyarakat Suku Using. Yakni kasur hitam dengan warna merah pada tepiannya.

“Hitam melambangkan ketenangan. Merah itu langgeng. Paling tidak masing-masing keluarga punya satu,” jelas kakek lima cucu itu.

“Ada jadwal khusus untuk menjemurnya lho. Yakni pada tanggal 1 bulan Haji yang kami sebut bersih desa dan saat upacara Ider Bumi pada hari kedua Idul Fitri. Semua wajib menjemur kasur dari pagi sampai pukul 15.00.

“Malamnya ada tumpengan, Kami hidupkan lagi oncor (penerangan seperti obor) ” jelas pria pria beruban itu.

Dalam berkomunikasi, Djohadi menjelaskan, masyarakat Using juga gemar berparikan alias berpantun Jawa. Menurutnya kalimat-kalimat dalam parikan itu berisi seperti isi pantun lainnya, tersirat sindiran.

“Parikan tak bikin marah, malah menjadi cara untuk bercanda,” jelas pria 67 tahun itu. Dia pun segera menyambung dengan contoh-contoh yang memang bikin tersenyum bahkan ber-cieeee cieee dan ber-hashtag #eaaakk

Perhatikan saja:

Alus-alus lumut mleseti, kasare jenggot kuwi ngangeni

Kemudian,

Adung kematengen gampang pecahe, golek laki ojo kari gantenge kalo ganteng banyak tingkahe.

Selain itu, dia menjelaskan adanya tingkatan dalam bahasa Jawa Using. Seperti di Jawa Tengah yang mengenal ngoko dan kromo, orang Using juga menggunakan bahasa kromo dan besiki.

Lantas apa sanksi yang akan didapatkan kalau adat itu dilanggar?

“Akan ada azab. Itu namanya kualat. Saya senang sekarang suku Using dipelajari di Sekolah Dasar sebagai muatan lokal. Semoga tradisi ini tak mati,” ucap dia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s