Meriahnya Pelabuhan Muncar di Banyuwangi

muncarbwi

Slereg di Pelabuhan Muncar di Banyuwangi berani menyajikan umbul-umbul dengan berbagai ornamen. Kubah masjid, foto-foto istri, anak, juga perempuan yang memperlihatkan belahan dada atau gambar pahlawan.

Puluhan perahu dengan asesoris super meriah bersandar di pelabuhan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur pekan kelima Mei lalu. Tak ada kapal yang tampil biasa-biasa saja. Mereka berhias seperti ibu-ibu hendak kondangan.

Perahu bercat mencolok itu berwarna dasar putih, ber-eye shadow biru, merah, atau kuning. Sudah begitu umbul-umbul dengan berbagai model dan warna ada di setiap ujung atas kapal.

Padahal perahu tak sedang mengikuti festival petik laut yang menjadi agenda rutin tiap 1 Syuro di pelabuhan Muncar itu. Namun, ornamen kubah masjid atau bingkai dengan foto-foto istri, anak, juga perempuan yang memperlihatkan belahan dada atau gambar pahlawan menjadi pilihan. Aneka gambar dan lukisan itu pas benar dengan latar belakang langit biru diseling awan putih yang benar-benar bersih.

“Tak ada aturan, suka-suka orang yang punya.” Begitulah kata beberapa nelayan kompak memberikan keterangan. Model perahu yang ada di pelabuhan Muncar itu dikenal dengan pakesan.

Tak hanya perahu warna-warni dengan jambul meriah, di pelabuhan itu ada perahu dengan ukuran lebih kecil. Seolah minder untuk bergabung, jukung–kapal yang berukuran lebih kecil dan tampil lebih sederhana it–mengelompok di area tersendiri. Tampilannya memang lebih sederhana. Umbul-umbul yang dimiliki tak semeriah slereg, meski warna tetap menor menggoda.

Jika diperhatian perahu berukuran besar dengan asesoris meriah itu tak hanya satu macam. Ada dua perahu berbeda anatomi dan fungsi.

“Setiap satu unit ada sepasang. Namanya slereg. Yang lebih besar untuk mengangkut jaring, yang lebih kecil menampung hasil tangkapan,” kata Ridiyanto, 37 tahun, salah satu juragan darat di pelabuhan Muncar.

Ya, sebutan juragan darat dan juragan laut memang sangat familir di sana. Juragan darat merujuk kepada bos pemilik perahu. Dia tak turun ke laut untuk memimpin pencarian ikan.

Istilah juragan laut menunjuk langsung pimpinan rombongan perahu yang turun ke laut. Bisa jadi, juragan darat merangkap juragan laut. Ridiyanto menjalani profesi sebagai juragan darat sejak 2005. “Kebetulan bersamaan dengan kelahiran anak saya yang kedua, jadi saya ingat benar,” kata Ridiyanto dengan logat Madura yang masih kental.

Ridiyanto memang berasal dari Madura. Dia tak sendirian, tak sedikit nelayan dan juragan darat atau juragan laut yang berasal dari Madura. Bahkan slereg pun “diimpor” dari Madura. Kalau terbiasa dengan warna-warna gonjreng di batik Madura, maka wajar saja jika perahu itu punya corak meriah.

Aktivitas di pelabuhan Muncar siang itu memang tak terlalu ramai. Kalah jauh dengan semaraknya umbul-umbul perahu. Los-los tempat menjemur ikan kosong melompong. Keranjang ikan bertumpuk rapi di satu area. Tak ada nelayan yang hilir mudik menggotong ikan. Tidak ada pula transaksi ikan oleh nelayan dan pedagang. “Sekarang sedang masa sepi ikan, nanti tunggu dekat bulan purnama,” kata Ridiyanto.

Dia sekaligus menyarankan untuk berkunjung ke Muncar saat petik laut. Acaranya bak karnaval 17-an. Slereg bakal berdandan maksimal. Mereka memang bakal menjadi tokoh utama. Pemiliknya memanfaatkan agenda itu sebagai simbolis rasa syukur nelayan kepada laut yang sudah memberikan rejeki tanpa batas.

Perahu yang sudah semarak kian genit dengan tambahan lampu warna warni. Tirai jendela rumah juga jamak ditambahkan. Yang mengasykkan para pengunjung boleh ikut serta berlayar di selat Bali itu untuk mencicipi langsung kemeriahaan petik laut. “Kalau ada perahu yang berangkat melaut sekarang, boleh juga kok ikut serta. Bisa belajar perbintangan dan tanda-tanda laut sedang banyak ikan. Langsung dari pakarnya,” kata Ridiyanto.

Maka, pilihan liburan, baik dengan cara mewah ataupun backpaker, pelabuhan Muncar bisa jadi pilihan. Siapa tahu, bisa diajak berlayar dengan perayu yang amat cantik itu.

Juni 2013

 

Iklan

2 thoughts on “Meriahnya Pelabuhan Muncar di Banyuwangi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s