Juragan Darat di Pelabuhan Muncar, Banyuwangi: Kaya Raya Dalam Satu Malam, Bisa!

muncarbwi2

Sudah puluhan tahun Ridiyanto menekuni profesi sebagai nelayan dan akan terus menyandangnya. Kemudian pria asal Madura yang menetap di Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur itu memutuskan berperan sebagai juragan darat.

Momentum menjadi juragan darat dialami Ridiyanto di tahun 2005. Sebenarnya dia tak benar-benar mengingat tanggal, bulan dan tahunnya. Pokoknya dia memulai usaha tersebut berbarengan dengan kelahiran anak keduanya.

Dengan modal Rp 750 juta dia membeli slereg bekas. Kala itu, harga kapal baru mencapai Rp 1,2 miliar. Kapal itu sandar di Pelabuhan Muncar, Banyuwangi.

Kendati memiliki kapal, Ridiyanto tak melaut. Dia memercayakan kapal itu kepada juragan laut.

Sejak itu dia menjadi juragan darat. Apa itu juragan darat dan juragan laut?

Juragan darat adalah bos pemilik perahu. Dia tak turun ke laut untuk memimpin pencarian ikan.

Juragan laut menunjuk langsung pimpinan rombongan perahu yang turun ke laut.

Tak semua juragan darat seperti Ridiyanto. Ada pula yang turun melaut.
Belajar dari pengalaman juragan laut dan para nelayan lain, Ridiyanto optimistis modalnya bakal balik cepat.

Setelah memiliki kapal slereg, Ridiyanto hanya perlu menyiapkan modal paling banyak Rp 5 juta. Biaya sebesar otu cukup untuk membiayai sekali jalan. Nominal itu untuk membayar 40 awak kapal, bahan bakar, dan es batu.
Tapi, bukan berarti tak ada risiko. Ridiyanto menggambarkan kehidupan juragan darat seperti naik turunnya roaller coaster. Naik ke puncak tinggi dalam waktu beberapa detik, anjlogpun bisa lebih cepat. Kalau tak kuat bisa jantungan.

“Hidup sebagai juragan darat itu cocok-cocokkan. Kalau ingin cepat kaya dan bisa seketika menjadi miskin papa, maka beli saja slereg,” kata Ridiyanto.

Ridiyanto bilang dia pernah merasakan sebagai orang kaya mendadak. Cuma dalam tempo satu malam. Kapalnya pernah membawa pulang ikan dalam jumlah banyak dan jenis yang mahal. Saat ditotal setara dengan Rp 250 juta.

Awak kapal Ridiyanto berlayar tak jauh dari Banyuwangi kala itu. Mereka berburu ikan di area Selat Bali.

Kekayaan Selat Bali  memang sudah tersohor sejak jaman dahulu kala. Lemuru dan tongkol yang paling terkenal.

Sampai-sampai English East India Company, perusahaan dagang Inggris, turut tergiur dengan potensi alam kawasan Banyuwangi yang dulu dikenal dengan Blambangan itu. Mereka menawarkan barter opium, senjata api, dan dua ton bubuk mesiu dengan berkarung-karung beras dan kerbau.

Perdagangan itu menarik kumpulan masyarakat lain untuk datang. Malah, sebelum Inggris tiba, pasukan dari Mataram, Bali, dan Belanda lebih dulu memasuki Blambangan. Sampai sekarang pelabuhan Muncar dikenal sebagai pelabuhan tradisional terbesar kedua setelah Bagan Siapinapi.

Hingga berabad-abad kemudian, ya di saat ini, kekayaan selat Bali tak berkurang, Malah Rudiyanto mencatat pernah membuang ikan kembali ke perairan saking melimpahnya stok di darat.

“Pada 1997 kami sampai harus membuang ikan. Stok sangat melimpah,” kata Rudiyanto.

Masa paceklik juga dikenal. Namun, slereg atau jukung tetap bisa membawa pulang ikan, hanya dalam jumlah yang tak banyak. Kalau pun ikan minim nelayan masih bisa panen ubur-ubur.

Problem nelayan saat ini hanyalah musim yang tak tentu datangnya.

“Kami tak bisa memprediksi masa paceklik. BMKG dan mbah dukun sudah tak benar setiap kali memprediksi musim,” kata Ridiyanto.

Iklan

2 thoughts on “Juragan Darat di Pelabuhan Muncar, Banyuwangi: Kaya Raya Dalam Satu Malam, Bisa!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s