Berburu Banteng di ‘Sunrise of Java’ Banyuwangi

Taman Nasional Baluran

Ukuran banteng di Alas Purwo lebih kecil dibanding yang berada di Taman Nasional Baluran.

Tekad kami sudah bulat. Kami harus bersua banteng. Bokong putih dan tanduk yang jadi ciri khas fisik binatang bernama Latin Bos javanicus itu harus kami temukan.

Begitulah semangat yang kami usung dari Jakarta menuju daerah yang sedang mengenalkan diri sebagai sunrise of Java, Banyuwangi, Jawa Timur, akhir Mei lalu.

Hari yang direncanakan tiba. Kami berkemas dengan lebih teliti pagi itu. Jas hujan murahan dan payung tak boleh ketinggalan. Makanan kecil dan air mineral kami bungkus dengan rapi sebagai bekal.

Tujuan pertama saya dan empat rekan adalah Taman Nasional Baluran yang ada di Kabupaten Situbondo dan Banyuwangi, Jawa Timur. Katanya, jalanan mulus dan lokaisnya tak begitu jauh dari empat menginap. Selain itu, tagline “Africa van Java” membuat kami sungguh mati penasaran.

Setelah tiba di lokasi, rupanya Baluran sedang tak berdandan dengan nuansa Afrika. Hujan yang masih kerap turun membuat Baluran tampil hijau dan basah, bukan sabana kering cokelat dan matahari yang sedang panas-panasnya.

Situasi itupun berimbas kepada kebiasaan si banteng. Banteng-banteng nyaman di rumah sendiri. Pasokan air minum sudah melimpah. Mereka tak perlu turun ke jalan untuk singgah di penampungan air di sepanjang jalan yang terbentang savana di taman nasional tersebut.

Selain itu, ada alasan yang membuat banteng enggan menunjukkan moncongnya. Beberapa hari terakhir, ada invasi besar-besaran oleh turis lokal.

“Banteng jadi enggan mendekati jalan kalau terlalu banyak pengunjung,” kata Joko, penyuluh Taman Nasional Baluran.

baluran3Sepanjang perjalanan dari pintu masuk melintasi hutan savana dan kawasan evergreen ke Pantai Bama savana tak berwarna kuning kecokelatan ala Afrika, tapi sedang hijau terang. Gunung Baluran juga sesekali harus mengalah kepada awan yang rajin turun lebih rendah.

Tapi tetap ada hiburan yang bisa kami nikmati. Sekawanan monyet yang asyik bercengkerama di sepanjang jalur. Juga burung merak yang sedang mempraktekkan jurus merpati: malu-malu tapi mau. Rusa-rusa juga asyik bergerombol.

“Biasanya rusa menjelajah sampai ke tepi jalan. Karena sering hujan, persediaan minum di tengah sana aman,” kata Kisma Dona, pemandu yang menemani perjalanan kami.

Tak bisa kopi darat dengan banteng di Baluran kami menuju Alas Purwo, juga masih di Banyuwangi. Sejak awal Kisma sudah memberikan kode-kode kalau perjalanan bakal lebih berat ketimbang jelajah di Baluran.

Malam sebelum menuju Banyuwangi, Kisma meminta izin mengganti mobil. “Saya harus mengganti dengan jip karena jalanan menuju Alas Purwo rusak berat,” katanya.

Kisma juga berpesan agar kami memaksimalkan isirahat setelah makan malam. Kami manut.

Syukur tak terhingga kami panjatkan setelah tiba di gerbang Taman Nasional Alas Purwo keesokan harinya. Registrasi dengan mendaftar gratis, kami mendapatkan brosur soal lokasi. Disebutkan banteng-banteng biasa berjemur di padang penggembalaan Sadengan.

Kami pun bergegas menuju lokasi. Tiba di Sadengan, kami sempatkan ngobrol sebentar dengan petugas lapangan yang sedang berjaga di sana.

baluran1

Petugas lapangan melaporkan kalau siang itu banteng yang singgah di padang penggembalaan Sadengan berjumlah 94 ekor dengan 18 ekor di antaranya jantan.

“Bisa loh mencoba menghitung sendiri,” kata Banda Nurhara, pengendali ekosistem hutan Taman Nasional Alas Purwo menawarkan kepada kami.

Dia kemudian mengangsurkan binokuler dan monokuler kepada rombongan kami. Teori sederhana pun diberikan.

“Banteng jantan berwarna hitam, yang merah betina,” kata dia.

Tawaran itu langsung kami terima. Kami bergegas naik ke gardu pandang dan memainkan binokuler. Buku catatan dibuka dan kadang kala menyimpan hasil hitungan. Namun, baru bisa menghitung sebagian saja, kepala kami sudah nyut-nyutan.

Padahal, Banda dan dua pengumpul data, Susyanto dan Suparno, wajib mengumpulkan data dua kali sehari, pagi dan sore.

baluran5“Kami bertugas di sini selama tiga hari, kemudian ada kelompok petugas lain yang menggantikan. Begitu seterusnya,” kata Banda.

Selain banteng, mereka menyimpan data jumlah anjing hutan, burung, dan hewan lain yang singgah di padang Sadengan.

Pernah suatu ketika mereka mendapatkan momen sadis sekaligus menarik saat bertugas. Banda menunjukkan rekaman video lima ekor anjing hutan yang beringas menyerbu sekelompok rusa. Kawanan banteng tak tinggal diam. Mereka melindungi rusa dengan sekuat tenaga.

baluran2“Seperti menonton di tayangan National Geographic, ya,” celetuk Yusmei Savitri, salah satu rekan seperjalanan saya.

Perjalanan hari itu berakhir dengan sukacita. Kami bisa melihat langsung bokong putih dan tanduk banteng jantan serta betina. Tak hanya satu-dua, tapi 90 ekor sekaligus. Katanya sih, ukuran banteng di Alas Purwo lebih kecil ketimbang di Taman Nasional Baluran.

“Kalau ingin melihat langsung aksi anjing hutan mengejar banteng, menginaplah di sini barang sepekan. Pasti ada kejadian,” ujar Banda.

Rayuan yang sungguh menggoyahkan iman.

Iklan

One thought on “Berburu Banteng di ‘Sunrise of Java’ Banyuwangi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s