Mendaki Gunung, Dulu dan Sekarang

rinjani

Saat mendaki gunung, ada ‘faktor u’ alias umur atau usia yang amat berpangaruh terhadap kebiasaan jaman dulu dan sekarang. Bukan soal tenaga, tapi juga terkait barang bawaan. Apa saja?

Ada ajakan istimewa akhir pekan lalu. Seorang teman meminta salinan KTP. Katanya untuk pendaftaran pendakian Gunung Gede April nanti. Tanpa pikir panjang, saya langsung menyatakan kesediaan.

Sebab, sudah terlalu lama saya tak naik gunung. Akhir tahun lalu saya ‘berpesta’ di pantai. Artinya, saya mematahkan tradisi yang sudah saya bangun sendiri, menutup tahun dengan naik gunung. Bukan pas tahun barunya sih, tapi pokoknya menghabiskan jatah cuti tahunan di gunung.

Tak apalah, toh waktu itu saya tetap liburan kendati ke tempat yang tak biasa, pantai. Istimewanya, bareng sahabat dan pacar. Hehehe….

Tapi ajakan naik gunung kali ini tak bisa dimungkiri memantik kegalauan tiada tara. Sebab, itu tadi, sudah setahun belakangan, lebih malah, saya tak naik gunung.

Sumber galaunya itu tentu saja soal kesiapan fisik. Sudah terlalu lama saya tak latihan fisik untuk naik gunung. Tak jogging, tak latihan beban, apalagi jalan jongkok yang jadi menu wajib jaman dulu waktu masih rutin naik gunung.

Sama sekali. Bahkan, kalau diingat-ingat jalan kaki jarak jauh sudah amar jarang. Jalan kaki (santai) hanya dari kos menuju kator yang tak lebih dari tujuh menit. Atau berjalan di melintasi halte trans Jakarta Dukuh Atas, Kuningan,  Semanggi, atau Grogol untuk transfer. Cuma itu!

Padahal usia sudah makin bertambah. Bukan rahasia lagi kan, kalau faktor U–sekali lagi U–umur alias usia tak bisa dibohongi.

Pada pendakian dua gunung terakhir saja, nafas saya sudah ngos-ngosan tak karuan. Sepuluh langkah berjalan, tiga menit istirahat. Ambil nafas panjang, memandang sekitar. Berjalan kembali. Istirahat lagi. Teman seperjalanan bahkan punya yelyel: pasukan 5-10. Lima menit berjalan, 10 menit istirahat.

Modal dengkul? Justru di setiap pendakian dengkul jadi modal utama. Lha wong jalan terus setiap hari, sepanjang siang dan medannya banyak naik sedikit turun, lebih sedikit lagi landai. Ujian dengkul makin dasyat nanti pas turun gunung. dengkul benar-benar modal penting. Untuk naik, tekad dan niat mencapai puncak yang menjadi motivasi terbesar. Malu juga kali kalau tak sampai puncak. Hehehe….

Padahal setiap kali turun gunung tak ada bagus-bagusnya jejak yang tersisa. Kulit yang memang hitam kian legam. Kulit wajah mengelupas. Bibir pecah-pecah. Kaki pegal-pegal. belum lagi kantuk yang seolah menjadi awet kayak diformalin. Lecet-lecet kecil juga seakan tiba-tiba muncul di semua bagian tubuh.

Dari dulu sih sering heran sendiri kenapa senang sekali naik gunung? Sudah capek-capek naik, nanti akhirnya turun juga?

Nyatanya sampai saat ini tetap saja naik gunung jadi pilihan utama untuk cuci gudang cuti. Tak perlu berbanyak, berdua pun jadi.

Yang menggelikan, sudah tahu tambahan umur membuat keperkasaan berkurang, tapi barang bawaan justru kian membengkak.

Dulu, boro-boro membawa sunblock, lotion saja nggak kepikiran. Kini, seperangkat alat cantik itu sampai harus makan tempat sendiri.

Juga makanan. Mi instan bukan lagi pilihan utama. Paling mi masuk menu makanan cadangan. Kami malah makin getol membawa “makanan normal” karena alat masak pun kian simple.

Dulu kami dipaksa mengepak alat masak serapi mungkin. Kompor gas dengan tabung isi ulang (padahal sebenarnya ga boleh diisi ulang lho). Atau harus pintar mengepak spirtus dengan botol-botol bekas plus kompornya.

Belum lagi masalah saat sudah ada di camp. Kita harus cerdik membangun benteng untuk melindungi kompor spirtus agar apinya tak gampang tertiup angin.

Kini, seliter spirtus bisa lebih irit dengan temuan trangia. Botolnya pun bikin packing-an tampak keren meski makan tempat.

Soal makanan juga makin beragam. Kornet, bakso, nugget, beras, sayur-mayur, dan bumbu instan. Buah-buahanpun tak lupa diangkut. Berbagai minuman instan juga bungkuuuss. Teh, kopi, dan susu siap santap. Tissue kering dan basah sudah kenal sejak lama, tapi kini hand sanitizer berbagai merk menjadi wajib.

Yang tak ketinggalan adalah berbagai macam rokok. Dari yang rokok putih untuk di peradapan, rokok kretek untuk sediaan selama perjalanan dan di acara khusus–padahal ya tebak-tebakan, saling curhat dll–pas nge-camp di pelawangan, sampai tingwe alias ngelinting dewe sebagai amunisi terakhir kalau stok dua rokok sebelumnya habis. Hahahaha….betapa kuatnya yah nafas ini. Jalur naik turun tapi ngebakar paru-paru jalan terus.

Bukan cuma buat gaya-gayaan, karena menurut saya rokok bisa jadi alat sosial. Buat sapaan setelah Assalamualaikum, baik kepada sesama pendaki atau penduduk di kaki gunung.

Kini, rokok hanya jadi simbolis perayaan kalau pendakian sudah usai. Fungsinya sih tetap ya. Kalimat kerennya: peran sosial.

Mendaki gunung jaman dulu, alat tidur juga tak ribet, sarung dan sleeping bag.

Sekarang, kaos kaki, sarung tangan, balaklava harus ada. Plus memakai lotion anti nyamuk. Pokoknya, tidurpun harus gaya.

Dokumentasi yang punya perbedaan paling mencolok. Tak bisa dilupakan pendakian pertama saya bersama teman-teman perempuan di Gunung Slamet, Jawa Tengah. Pendakian itu semestinya keren, tapi malah tak ada bukti.

Negatif film tak pernah nyantol pada kaitan di kamera Fuji ala kotak sabun warna hitam dan harus dikre..krek..lebih dulu itu. Jadi setiap kali kami bergaya di gunung dengan ketinggian 3428 mdpl itu muspro alias tak berguna.

Eh, setibanya di bawah dan kamera diserahkan ke tukang foto langganan jawaban mengecewakan yang kami terima.

“Mbak, filmnya masih baru, jadi nggak ada yang bisa dicetak.”

Yak, seperti gempa bumi rasanya. Ini yang pertama dan tiada dokumentasi. Jegerrrr…..Mau nangis kok ya malu sama body saya yang bongsor seperti ini.

Kalau jaman sekarang pasti dibilang pendakian itu hoax. Enggak ada foto.

Tapi kini, kamera digital sangat membantu. Handycamp juga bukan barang sulit untuk menemani perjalanan. Gopro atau yang sejenisnya malah lebih praktis, bsia foto juga video. Asal jangan lupa bawa baterei cadangan banyak-banyak.

Telepon genggam sudah jadi barang wajib malah, bukan lagi HT yang harus bergantian ngomong dan menyamakan frekuensi lebih dulu. Bisa buat foto dan komunikasi. Nyatet-nyatet momen penting juga gampang. Hanya saja memang problem dengan dayanya ya.

Laptop juga bukan barang haram karena beratnya setara lima handphone saja. Ipad lebih ringan lagi.

Kendaraan menuju gunung yang diinginkan juga sudah sangat hemat waktu dan pilihan makin beragam seiring makin banyaknya orang jalan-jalan.

Saya punya pengalaman tua di jalan. Yakni ketika pendakian ke Gunung Kerinci waktu masih ABG. Kala itu, kami–saya dan lima teman seperjalanan–harus panas-panas dan berdesakan di bus ekonomi tiga hari dua malam dari Purwokerto menuju Padang.

Bak cerita di film India, ada penumpang bawa-bawa ayam. Setiap kali bus berhenti di waktu makan, ayamnya ikut turun. Dijemur. Jemuran di jendela juga jadi pemandangan biasa. Lumrah.

Dari Padang ke desa terakhir pendakian di Desa Kersik Tuo lumayan ada travel ber-AC tapi kami nawar serendah-rendahnya lebih dulu. Bukan cuma soal murah, tapi bisa menang nego dengan harga paling murah bakal jadi kepuasaan tersendiri bukan?

Kini, soal transportasi bisa lebih gampang. Tiket penerbangan murah ke daerah dan meningkatnya frekuensi moda menuju dan dari desa terakhir pendakian lebih gampang. Satu, dua atau tiga jam sampai deh…….

Ok…faktor U mengubah segalanya. Tapi untuk ke Gunung Gede sepertinya ada yang tak bisa diubah. Kesiapan fisik. Saya berjanji mulai pekan ini jogging lagi dan jalan jongkok kembali! *Pecut!!!!

Jakarta, pekan pertama Maret 2013

Iklan

12 thoughts on “Mendaki Gunung, Dulu dan Sekarang

      • Iya siihh ..
        Tapi kan pinuk factor nya itu loohh yg bawa ‘hoki’
        (tau gaptek deh padahal timbang pasang roll doang)
        Lucu2 mengenaskan …
        *Ampuun!!

  1. Ping-balik: Menjejak Puncak Gunung Gede | femidiah

  2. Ping-balik: Mau Bepergian, Jangan Bilang ‘Duh!’ Dulu Buat Packing – femidiah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s