Terjebak Dalam Sangkar Nirwana

NIrwana Resort

Misi ngopi di warkop saat berkunjung ke Bintan pun tak kesampaian. Saya mendekam di dalam resort yang bak sangkar nirwana.

Bak burung di dalam sangkar emas. Itu pengalaman saya saat mengunjungi Bintan, Kepulauan Riau dua pekan lalu. Yang semakin menyesakkan kejadian itu menggelinding liar karena kesalahan saya sendiri: berani-beraninya berkunjung ke Bintan saat bokek menerpa.

Tiket penerbangan dan penyeberangan lautan tak bikin pusing. Sebab, ditanggung panitia pengundang. Jalan-jalan kali ini berkat undangan penyelenggara Meta Man Triathlon jarak ultra.

Saya tak sendirin. Kunjungan ke Bintan kali ini bersama sembilan rekan seprofesi dari Jakarta. Dengan status undangan itu, makanan dan tempat penginapan juga gratis. Jadi, sebenarnya tak perlu pusing-pusing untuk memikirkan dua kebutuhan primer itu. Soal sandang, kendati harus mikir sendiri, yah enggak repot-repot amat, tinggal buka lemari, comot pakaian dan memasukkan ke dalam tas ransel.

Penginapan mewah di Nirwana Resort dengan stempel bintang empat sudah menunggu. Kamarnya mewah. Tapi, saya mendapatkan yang tak menghadap langsung ke pantai atau kolam renang. Meski begitu, ada kemewahan yang tak bisa didapatkan pada sembarang waktu dan tempat.

Apa itu? Ada hamparan pasir putih selembut bedak menjadi santapan setiap kali keluar kamar.

Sudah begitu pantai ini amat mengasyikkan. Sebab, tak ada ombak besar, hanya riak ala kadarnya. Kegiatan paling asyik pun berenang di pantai tenang itu. Maklum, renangnya nggak jago-jago amat jadi cukup satu atau dua jam keceh basah-basahan di pantai itu.

Mau snorkeling juga bukan pilihan keren karena terumbu karang sudah mati. Jadinya hanya nyelam-nyelam dengan pelindung kaca mata renang menikmati ikan-ikan yang seliweran menabrak-nabrak betis.

Dari berbasah-basah di pantai kemudian mentas untuk pindah ke kolam renang yabintan7ng berjarak tak sampai lima meter. Pemandangan pantai masih tak lepas dari jarak pandang mata.

Tapi lama-kelamaan mengayuh kaki dan tangan berkeliling dan nyelam-nyelam ke dasar kolam lama-lama membosankan. Sebab, kegiatan itu serupa benar dengan kemarin petang. Nyemplung pantai, mentas, pindah ke kolam renang, mentas, handukan, mandi, nongkrong. Begitu saja.

Mau lebih sih sebenarnya banyak. Bintan, eemmhh se-Nirwana Resort-nya saja, menawarkan snorkeling, wisata naik gajah, tembak-tembakan, main panah, juga flying fox. Sekedar kongkow di bar juga bisa.

Tapi “bisa” itu menjadi tak mudah lantaran persoalan klasik itu tadi: saya bokek. Nasib buruk itu juga dialami kesembilan rekan saya pulak. Kompak. Aklamasi.

Bahkan kalau sedang tak bokek sepertinya amat sayang untuk merogoh kocek demi melihat harga-harga selangit. Mau keluar dari area resort terbayang perjalanan dari pelabuhan Bulang Linggi Tanjung Uban ke resort. Jarang sekali kendaraan umum. Dengan suttle bus saja makan waktu sampai 45 menit, tanpa lampu merah dan macet.

“Gerbang masuk kawasan resort saja jauh bener,” kata salah satu rekan seperjalanan. Tapi sebenarnya UUD alias ujung-ujungnya duit. Kami terlanjur “takut” menyewa mobil untuk keluar dari sangkar. Yang berani kami tanyakan adalah sewa sepeda bermotor, satu jamnya 2 dolar Singapura.

Rupiah memang masih laku, tapi pembayaran lebih familiar dengan dolar Singapura (SGD). Itu menjadi salah satu pendongkrak keder. Sebagai gambaran 1 SGD setara Rp 7.800. Nah, yang menakutkan harga-harga pun nggak lagi memakai logika rupiah tapi SGR itu.

Sebagai contoh air mineral botolan berukuran 600 militer yang normalnya Rp 2000 melonjak sepuluh kali lipat menjadi Rp 20 ribu. Kalau mau ukuran besar, 1,5 liter harganya makin nonjok Rp 60 ribu.

bintan5Kami semakin heran saat tahu harga kupon makan siang dan makan malam yang ada di tangan. Nilainya setara Rp 150 ribu sekali makan. Sewa kamar semalamnya Rp 1 juta.

Dari situ banyolan ala film Warkop DKI Dono Kasino Indro pun bertaburan. “Bisa-bisa kalau kita makan di sini bakal bayar dengan cuci piring sebulan.” Atau kalimat yang ini: “Bisa enggak bayar pakai KTP.”

Ada yang kejebak juga. Ini bukan pengalaman rombongan kami tapi hasil ngobrol teman-teman grup cowok yang sempat nongkrong di bar yang masih ada dalam satu kawasan resort. Sebelum berprofesi sebagai bartender di sana, mas-mas itu pernah datang ke resort Nirwana. Dia mengikuti lomba biliar. Tak sendirian, dia datang dengan dua teman.

Setibanya di lokasi penginapan, mereka kompak kelaparan. Lantaran waswas dengan rasa dan harga yang akan ditagihkan mereka sepakat memesan menu paling gampang, ya di lidah, ya di kantong: nasi goreng. Minumnya air mineral botolan.

Transaksi lewat telepon pun terjadilah. Tak lama pesanan datang ke kamar. Saat menerima nota pembayaran, mereka bertiga pun kompak terkaget-kaget meski tak sampai pingsan. Di nota tertera tagihan Rp 1 juta. Soal rasa bagaimana? “Nasi goreng harga sejuta, yah dienak-enakkan saja.”

Lantaran “kekhawatiran” itu kami menikmati saja sajian di kawasan itu. Untungnya kami datang karena memang sedang ada acara: triathlon ultra jauh. Itu lho triathlon nomor-nomornya melombakan renang, balap sepeda, dan lari jarak jauh. Peserta harus melahap lintasan sepanjang 3,8 kilometer, kemudian balap sepeda sejauh 180 kilometer dan ditutup lari marathon 42,2 kilometer.

Tapi tetap saja beberapa kerugan tak bisa dihindari. Kerugian terbesar kali ini adalah  saya sama sekali tak berkesempatan mencicipi kopi di Bintan.

Tentu saja itu rugi besar karena Bintan memiliki banyak warung kopi. “Di sini bisa ngopi di manapun, banyak sekali warung kopi.” Tapi waktu tak memungkinkan untuk sekedar mencicipi. Saya terlalu sore tiba di Bintan. “Warung kopi hanya buka dari pagi sampai siang.”bintan6

Untuk warung kopi saja tak sempat, desa wisata pun lewat. Setidaknya sunrise molek saya dapatkan pagi itu di Bintan. Sepaket dengan pasir putih selembut bedak dan lambaian nyiur kelapa.

Diingatkan seorang teman kalau memang perjalanan tak selalu menyenangkan, seperti lirik Ebiet G. Ade “perjalanan ini terasa sangat menyedihkan…” Tapi tetap saja saya selalu menyukai #perjalanan.

Iklan

4 thoughts on “Terjebak Dalam Sangkar Nirwana

  1. saya juga pernah berkunjung ke Bintan, tapi bukan di Nirwana Resort…
    memang harganya kalo di dalam resort agak “wow” ya… 🙂
    kalopun mo makan diluar, lumayan jauh jaraknya dan gak ada kendaraan pula….
    akhirnya ya, di enak2in aja… 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s