Ritual Menandai Daerah Kekuasaan

gede2

“Trus kalau mau pipis bagaimana?”
”Lhah kalau pengen pup caranya?”

Pertanyaan itu sering kali terlontar dari bermacam bentuk bibir teman saya. Tak peduli bibir tipis yang kata orang milik makhluk ceriwis atau bibir tebal mereka yang sabar.

Bukan sebagai kalimat pembuka tapi jadi lanjutan perbincangan sebelumnya. “Kamu kalau naik gunung biasanya sampai berapa hari?” “Tergantung gunungnya. Paling nyaman tiga atau empat hari. Pas, nggak kelamaan dan nggak terlalu sebentar.”

“Trus kalau mau pipis bagaimana? Lhah kalau pengen pup caranya?” Dua pertanyaan itu heboh mengekor jawaban saya tadi. Mereka menjadi kian takjub dan terkaget-kaget setelah saya sodorkan kunci jawaban. Secara tak perlu istighosah seperti tradisi sabut Unas.

“Kalau mau pup pakai golok saja.” Bukannya puas, mereka malah mlongo atau tertawa ngakak atau tak percaya. Saya haqul yakin mereka tak bisa membayangkan urusan ke belakang bisa diselesaikan dengan golok.

Tanpa praktek teori ini memang seperti generasi masa kini yang disodoron kaset pita dengan pensil. Atau kaset dengan kutek. Nggak nyambung!

Tapi mereka-mereka yang paham pasti langsung bisa menjawab: pensil berdaya guna untuk merapikan pita kaset sehabis diolor karena melintir atau mbundet. Kalau kutek?

Simbiosis komensalisme terbangun karena kutek bermanfaat untuk menyambung pita putus. Yang merasa besar di generasi anak nongkrong MTV alias genrasi 90-an pasti sangat amat mengerti. Mereka yang lahir sesudahnya dijamin gagal paham.

Ya, golok dan pup itu juga bisa disandingkan. Golok itu berguna untuk menggali tanah. Lubang galian itulah yang benar-benar bermanfaat. Ya! Anggap saja lubang itu kakus. Tentu saja kakus yang sangat pribadi. Tak bisa dibuat untuk bergantian. Kalau goloknya sih boleh kok dipinjamkan.

Golok juga bukan kebutuhan primer untuk pup. Bisa diganti dengan yang ada di lokasi saat itu. Patahan cabang atau ranting pohon yang paling mudah didapatkan. Tapi ada perlengkapan lain yang diperlukan: tisu atau dedaunan.

Sebagai catatan ya, kalau memilih daun liar yang teliti, jangan sampai memicu gatal-gatal. Kalau Anda pernah ke Gunung Semeru ada daun jancuk disebutnya. Sebab, kita tak akan bisa tak misuh-misuh atau mengumpat setiap kali terserempet daun yang nama aslinya jelatang itu.

Nah, cairan antiseptik itu sebagai pengganti air. Maklum, kita harus hemat-hemat air setiap kali naik gunung apalagi jika pendakian dilakukan musim kemarau.

Bagaimana soal aurot? “Tinggal sembunyi di balik pohon besar. Jangan di bawahnya pas ya, karena hehehehe terus terang saya sendiri ngeri.” Selain itu juga di area semak-semak agar tetap aman dan kasihan dunks rekan kita dapat bau sementara kita bisa jadi nyaman.

Awalnya memang grogi tapi lama-lama biasa kok. Seperti saat kita mulai pacaran, bahkan kalau jadiannya sama teman sendiri. Awalnya kikuk tapi lama-lama…….terserah Anda lah ya…..

Anggap saja kita sedang berperan jadi tapir atau harimau. Keduanya punya ritual buang kotoran untuk menandai daerah kekuasaan. Puplah disitu untuk menandai daerah kekuasaan. Lhah ya jelas dunks…wong nggak mungkin dinapaktilasi orang lain.

Eh, untuk soal pipis lebih sederhana. Nggak perlu bawa golok. Yang cowok sih tinggal hadap kanan atau hadap kiri jalur kemudian buka resleting. Pendaki cewek sedikit mikir dan atur-atur jam pipis. Pilih-pilih jalur bersemak dan sedikit menjauh agar suara percikan tak terdengar.

Tapi perhatikan pula peraturan yang berlaku. Sebab, beberapa gunung di tanah air melarang pria kencing berdiri.

Simak regulasi di Gunung Kerinci. Ada larangan pipis berdiri untuk pria, juga larangan makan atau minum langsung dari nesting. Jadi pup dan pipis bukan perkara besar di ketinggian sana. Justru kesulitan ada di mall atau hotel berbintang yang tak menyediakan air. Masak pipis dan pup di peradaban tanpa cebok?

Iklan

9 thoughts on “Ritual Menandai Daerah Kekuasaan

  1. Ping-balik: Khasiat Daun Jancuk di Balik Gatal-gatal yang Dibuatnya | femidiah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s