Digulung Ombak Karang Papak

surfingsesar

Surfing menjadi kegiatan bodoh saat kami yang melakukannya.

Kalau mendengar cerita Fatir Muchtar, 32 tahun, ucapan terima kasih layak diberikan kepada kakak dia, Bucek Depp, dan Arya Subiakto, Ketua Persatuan Selancar Ombak Indonesia (PSOI). Tanpa mereka berdua belum tentu saya yang hanya punya waktu libur satu hari sepekan dan duit pas-pasan ini bisa menikmati gulungan ombak di atas papan surfing.

Ya, merekalah yang mengorbitkan ombak Pantai Cimaja bisa dijadikan lahan surfing alias selancar ombak di tahun 1987.  Kami juga bisa menyaksikan berkumpulnya surfer lokal dan asing di tengah ombak berselancar. Aksi keren seperti yang dilakukan Dede Suryana atau Gemala Hanafiah itu.

Berbalik 180 derajat. Kegiatan surfing yang menyenangkan bagi para surfer itu, justru menjadi kegiatan bagi kami–saya dan sepuluh orang teman pada rombongan–jauh dari keren. Kami jatuh bangun, digulung ombak, tersedak karena minum air laut yang asin, juga sibuk mencari pijakan pasir agar setidaknya bisa bernapas dalam-dalam.

Maklum, ini menjadi pengalaman pertama kami belajar surfing. Kegiatan yang keren saat dilakukan oleh para surfer menjadi kegiatan bodoh saat kami yang melakukan. Tak ada liukan dengan busana seksi seperti Gemala atau aksi pria-pria berdada bidang dan perut sixpack ala Dede.

Padahal ini bukan di Pantai Cimaja, Pelabuhan Ratu, yang menjadi tempat favorit para surfer sungguhan. Kami berasyik-asyik di Pantai Karang Papak yang memiliki ombak lebih aman bagi pemula, bahkan yang zero pengalaman sekalipun. Penduduk lokal lebih sering menyebut dengan pantai sunset untuk kawasan ini.

Ya, kami harus sempoyongan setiap menenteng funboard meninggalkan pantai dan terasa sudah berjalan jauh tapi ternyata tak juga meninggalkan bibir pantai. “Kalau ombaknya datang nyelam saja. Papannya jangan sampai diarahkan horizontal karena akan berat dan berbahaya,” kata Bina Suastana, instruktur surfing kami.

Untuk menjawab “iya” saja menjadi berat. Cukuplah mengangguk dan melaksanakan semua instruksinya dengan sebaik mungkin. Tapi Bina tak puas hanya memberikan kunci jawaban memudahkan cara berjalan. Saking baiknya dia ingin kami menjajal menaiki papan surfing itu dan mencoba kekuatan kayuhan alias paddling.

Eh tiba-tiba Bina mengistruksikan untuk segera berdiri di atas papan. Oh ternyata untuk berdiri saja membutuhkan tenaga ekstra. Hup! Saya coba. Belum juga teriakan hore rampung dilantangkan badan saya sudah oleng dan byuur….jatuh tanpa ampun.

Saya kembali tertatih mendorong papan dan mengikuti instruksi Bina secara berututan. Hasilnya jatuh lagi dan jatuh lagi. Untungnya Bina sangat sabar mendampingi dan sesekali menambahkan pemahaman kapan waktu yang tepat unruk mulau menaiki papan dan memilih saat yang pas untuk berdiri. Bina juga kadang kala memaparkan bagian ombak yang aman atau yang berbahaya yang di mata saya sama saja.

Meski awalnya panik dan gelagepan karena seringnya minum air laut, lama-lama kegiatan digulung ombak itu menyenangkan. Kami sih sok keren saja menenteng-nenteng papan surfing yang ternyata beratnya ampuuunnn dije. Maklum, sebagai pemula kami dapat jatah papan berukuran paling besar dan paling tebal. Sebutannya funboard.

Asyiknya lagi, kami tak hanya berenang-renang kemudian menelan air seperti kegiatan tradisional setiap kali dolan ke pantai. Sudah begitu, biaya sewa papan dan guide tak mahal-mahal amat kok. Setara dua kali nonton film di bioskop kala akhir pekan.

Nah, untuk menikmati gaya surfer yang sudah berpengalaman bisa bergeser sedikit ke Pantai Cimaja, Sebaiknya pilih waktu pagi karena lebih ramai. Tapi kalau datang sore akan ada bonusnya, yakni indahnya sunset dengan lambaian daun kelapa.

Tak sulit menemukan Pantai Cimaja. Ada tugu sebagai penanda Pantai Cimaja pada jalan masuk. Di pantai ini tak bisa untuk mandi-mandi karena tepinya didominasi bebatuan bukan pasir. Trek menuju pantai berupa jalan tanah dan bebatuan. Tak jauh, hanya lima menit berjalan pantai sudah terlihat.

Asyiknya kalau beruntung saat nongkrong di pantai itu bisa bersua dengan Dede, surfer kondang yang langganan juara di berbagai even internasional. Pada 2008 lalu dia meraih medali emas Asian Beach Games yang digulirkan di Bali. Dia kelahiran Cimaja tapi demi mendongkrak karir hijrah ke Bali. Mengejar Ombak adalah film dokumenter tentang kehidupan Dede.

Iklan

6 thoughts on “Digulung Ombak Karang Papak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s