Borong Oleh-oleh, Yuk!

PhotoGrid_1431956457063

Traveling dan oleh-oleh. Dua aktvitas itu bak saudara kembar. Tak bisa dipisahkan satu sama lain.

Tapi tak semua orang akan mengangguk tanda setuju. Tak sedikit yang doyan jalan, namun anti bawa oleh-oleh. Wong dititip saja lho gerah, ogah, malah tak sedikit yang marah-marah. Apalagi dimintai oleh-oleh.

Segepok alasan sudah disiapkan di kepala sebagai jurus menolak permintaan. Dari yang basa-basi: iyah, kalau sempat ya…., duh, kayaknya nggak mampir kesana. Atau sampai yang menolak dengan sarkas: bawanya berat!

Padahal apa iya tidak sempat belanja oleh-oleh? Toh, oleh-oleh tak selalu harus didapatkan di pelosok kampung dengan berkuda dari perkotaan dengan membutuhkan waktu berhari-hari dan harus bersua begal atau perompak. Oleh-oleh juga tak perlu punya berat 100 kilogram sampai harus muncul tagihan bagasi ekstra.

Berapa sih harga gantungan kunci atau tempelan kulkas? Berapa sih nominal permen lucu warna-warni berbungkus bendera negara setempat. Berapa sih kita musti mengeluarkan rupiah untuk membeli kartu pos tempat asing di mana kita berdiri? Berapa sih harga tas-tas lucu dan unik di sebuah daerah yang kita kunjungi

Lagipula biasanya dengan berbelanja satu bungkus isi banyak, harganya bisa lebih murah. Bisa juga nyontek cara-cara bule yang berkunjung ke tanah air kita yang indah permai ini. Mereka lazim mampir kantor pos untuk memborong perangko yang desainnya sering kali sangat Indonesia. Yang ini bisa lho sepasang dengan amplopnya.

Terakhir saya mengintip ada motif kain khas dari 33 provinsi se-Indonesia. Yang menjadi kesukaan saya dari dulu sampai sekarang sih edisi flora dan fauna. Ada juga edisi bergambar festival atau perayaan resmi negara. Eh, ini sih untuk oleh-oleh teman negara lain yang bakal kita kunjungi ya.

Saya sendiri paling gemar saat mendapatkan oleh-oleh kopi khas daerah yang dituju. Biasanya, teman-teman yang traveling di kawasan Indonesia. Tak perlu sekuintal atau seton, teman-teman sudah paham kalau saya hanya ingin mencicip aroma dan rasa kopi dari destinasi perjalanan mereka. Sesachet-dua sachet mereka selipkan di antara packingan.

Tapi ada juga yang sampai rela membawakan kopi dari Manchester eh, ternyata made in-nya USA. Saya sih senang karena punya varian baru, tapi si pembawa oleh-oleh malah salah tingkah karena salah bawa. Bagaimana saya tak dibikin mengharu-biru.

Saya yakin mereka yang berharap oleh-oleh juga bakal tahu diri. Tahu diri untuk tak rikues oleh-oleh barang segede kulkas, seberat peti kemas, atau semahal harga 24 karat emas.

Justru buat saya, permintaan oleh-oleh itu sebagai curahan hati mereka karena tak sanggup untuk turut serta. Entah karena waktu atau doku.

Saya pernah mendengar: “Sebuah ekspedisi disebut berhasil jika melibatkan semakin banyak orang.” Begitu pendapat senior Wanadri yang melepas sepasukan pendaki menuntaskan ekspedisi 7 Summits.

Perdana menteri Inggris di masa perang Dunia II Winston Churchill juga sepakat tentang berbagi ini. “We make a living by what we get. We make a life by what we give.”

Jadi tak perlu ragu lagi untuk memborong oleh-oleh ya…..

Iklan

5 thoughts on “Borong Oleh-oleh, Yuk!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s