Lima Hari di Flores, ke Mana Saja?

Wae Rebo sudah di depan mata

Kombinasi cuti yang pendek dan budget yang terbatas plus keinginan kuat ke Flores memaksa kami pandai-pandai menyusun rencana liburan akhir tahun lalu. Dari Labuan Bajo kami menyisir Flores, pulau utama Nusa Tenggara Timur, dimulai dari Labuan Bajo dan berakhir di Ende.

Saya memang sudah bertekad besar untuk ke flores, sendiri atau bersekutu. Kalau tidak sekarang kapan lagi. Tia Agnes, rekan sekantor saya berminat turut serta.

Kamipun segera menyusun destinasi. Kami tak memutuskan destinasi sendiri, tapi berkonsultasi dengan guide lokal. Hasilnya, beberapa lokasi yang kami inginkan dikompromi dengan tujuan wisata tak populer, miniaturnya atau lokasi yang benar-benar berbeda. Mumpung Flores masuk satu dari Top 10 Regions Best in Travel Lonely Planet 2015, kami ingin berbagi pengalaman.

Berikut tempat-tempat yang kami–saya bersama Tia Agnes–susuri via jalur darat dari Labuan Bajo ke Ende.

1. Sawah Laba-laba Wae Sesap

IMG_20141219_231507-1

Jika mendengar Ruteng, Nusa Tenggara Timur, biasanya langsung terbayang susunan sawah yang berbentuk mirip jaring laba-laba di Desa Canca, Manggarai. Karena keterbatasan waktu, kami tak bisa ke sana.

Kami menggantinya dengan sawah dengan susunan serupa meskipun berukuran lebih mungil. Susunan sawah mirip jaring laba-laba itu ada di Desa Wae Sesap, Lembor, Ruteng.

Jaraknya sekitar dua jam perjalanan dari Labuan Bajo. Tak sulit menemukan sawah Wae Sesap karena lokasinya di tepi jalan. Untuk menikmati motif laba-laba itupun cukup mudah. Kami hanya naik ke perbukitan kecil sekitar 10 menit.

“Di pusat lingkaran itulah biasanya diselenggarakan upacara-upacara ritual. Bisa sebelum tanam atau sesudah panen” kata Agustinus, guide yang mendampingi kami.

2. Desa Wae Rebo

IMG_20141219_091305-1

Wae Rebo di Kecamatan Satarmese Barat, Manggarai, Nusa Tenggara Barat kami anggap sebagai ‘gong’ perjalanan kami kali ini. Untuk memulai perjalanan kami singgah di desa terakhir, Denge.

Berjalan selama 3,5 jam dari desa Denger tibalah kami di Wae Rebo yang disebut-sebut sebagai Negeri di Atas Awan. Satu artikel yang mengenalkan Wae Rebo juga menyebut tempat ini lebih dulu mendunia barulah dikenal di Indonesia.

Desa ini memang sudah dikembangkan sebagai desa wisata. Ada satu rumah di antara Mbaru Niang (rumah adat Wae Rebo berbentuk kerucut) yang disediakan sebagai penginapan untuk para tamu. Kapasitasnya bisa sampai 70 orang.

Tak perlu khawatir soal mengisi kembali daya telepon genggam, kamera, dan alat elektronik lainnya plus untuk urusan mandi. Listrik sudah tersedia di desa itu. Soal mandi, ada empat kamar mandi yang disediakan di luar rumah panggung beratap rumbia itu. Bisa juga mandi di pancuran. Katanya, punya khasiat enteng jodoh.

Soal makan dan minum juga tak perlu pusing. Retribusi senilai Rp 250.000 per kepala per malam, sudah termasuk makan tiga kali sehari dan bebas air minum. Kopi, teh, dan air putih.

3. Air terjun Cunca Neweng

cuncaneweng

Air terjun ini ada di wilayah Waerebo. Untuk menuju air terjun Cunca Neweng cuma butuh waktu 30 menit, tapi pulang ke kampung bisa dua kali lipatnya.

Kontur tanahnya memang naik turun. Dari desa Waerebo, cenderung turun, sedangkan saat pulang didominasi tanjakan.

“Belum banyak yang tahu air terjun ini. mereka yang menginap satu malam enggan untuk mendatangi karena menghemat tenaga karena perjalanan bolak-balik lumayan berat,” kata Renza, relawan salah satu LSM pengembang wisata di Waerebo yang mendampingi kami.

4. Kampung adat Luba Tua

1419052016568

Kampung ini tak jauh dari Bajawa, kota yang tersohor sebagai produsen kopi utama Flores. Hanya berjarak sekitar 20 kilo meter dan berada teat di kaki Bukit Inerie.

Kampung Luba Tua berada di Desa Tiwuriwu Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada menjadi destinasi turis sebagai kampung adat dengan jejak budaya megalitikum. Dihuni oleh para tetua dan anak-anak.

Ada 17 rumah kayu beratapkan ilalang yang membentuk formasi segi empat megelilingi tanah lapang berundak. Rumah-rumah panggung beratap rumbia dengan mahkota yang berbeda-beda menjadi daya tarik. Juga makam yang ada di tengah-tengah kampung. Di sinilah tenun dan penenunnya dijumpai.

Untuk masuk kampung tak ada peraturan khusus. Tinggal bayar retribusi seikhlasnya, keanggunan kampung adat bisa dinikmati. Soal sopan santun dan menyapa tuan rumah, itu sudah jadi aturan di manapun kan?

5. Kampung adat Bena

lubatua

Kampung adat Bena masih berada di Dea Tiwuriwu. Berjarak 10 menit jalan kaki dari kampung Luba Tua. Kampung adat ini lebih luas ketimbang Luba Tua.

Seperti halnya Luba Tua Bena juga masih beraroma megalitikum. Ada setidaknya 45 unit rumah yang dihuni suku-suku yang berbeda. “Ada sembilan suku di sini. Masing-masing suku ada di ketinggian yang sama, kalau beda undakan, maka beda pula sukunya,” kata Agustinus, guide kami.

Saya sarankan jangan di hari Minggu untuk mendatangi dua kampung adat tersebut. Sebab, hari Minggu menjadi hari ibadah. Aktivitas menenun dan kegiatan di luar ibadah pun libur.

6. Pantai Panggajawa dengan hamparan batu biru

1421147511677

Perjalanan kami berlanjut ke Ende. Jujugan pertama kami adalah Pantai Panggajawa. Pantai ini unik dengan hamparan batu biru.

Tak banyak bule yang berjemur memang. Pantai ini menjadi sumber rezeki penduduk lokal dengan penambangan batu biru. Sebagian kecil kuning atau cokelat berkelir mirip lingkaran umur kayu alias annual rings.

“Biasanya pagi dan sore hari kami mengumpulkan batu-batu ini. Pemborong membawanya ke Surabaya,” kata Nuraeni, pengumpul batu.

7. Danau Tiga Warna Kelimutu

kelimutu

Destinasi ini memang sudah tersohor dan lokasi inilah yang menjadi ikon Ende, Nusa Tenggara Timur. Danau di atas bukit yang mempunyai tiga kawah berbeda-beda warna.

Danau yang ada di Desa Pemo, Kelimutu NTT ini biasa dinikmati di pagi hari. Sunrise terindah menjadi bidikan.

Yang terbiasa ngopi pagi tak perlu khawatir, beberapa pedagang kopi keliling sudah ‘ngetem’ sejak subuh di hari-hari liburan.

8. Museum Soekarno, Ende

Screenshot_2015-07-10-02-05-53-1-1

Museum Soekarno berada di tengah kota Ende, tepatnya di Jalan Perwira tanpa nomor. Museum itu bekas rumah pengasingan Bung Karno.

Selama empat tahun, mulai 1934-1938, Soekarno diasingkan oleh pemerintah Belanda ke Ende. Bung Karno tinggal bersama istri, Inggit Garnarsih, dan mertua, Ibu Amsih, selama di sana.

Pemerintah kota Ende juga membangun Taman Perenungan Soekaro. Konon, pohon sukun yang ada di taman ini sudah ada sejak jaman Soekarno.

“Ende memang sangat lekat dengan Soekarno. Dari pelabuhan sampai ke tengah kota semua menyimpan kisah Soekarno,” kata Saffrudin Pua Ita, juru pelihara situs Bung Karno.

Iklan

4 thoughts on “Lima Hari di Flores, ke Mana Saja?

  1. ga tau kenapa, dari kecil saya selalu pengen ke flores. Mungkin karena namanya lucu dikupang saya. padahal saya bener2 gatau kayak apa sih flores hahaha

  2. Ping-balik: (Sebaiknya) Jangan Datangi Kampung Naga di Hari Sabtu | femidiah

  3. Ping-balik: Menyusuri Flores dari Maumere ke Labuan Bajo: Lewat Darat, Laut, dan Udara (1) – femidiah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s