Berakrobat di Dalam Perut Goa Gebyok

gebyok1

Lima jalur vertikal dan jalur horisontal yang membutuhkan variasi cara berjalan menjadi santapan saat menelusuri Goa Gebyok.

“Merinding! Tragedi itu hanya terjadi tiga hari setelah kita melakukan penelusuran goa di kawasan serupa.”

Begitulah pesan terbuka dari rekan seperjalanan di Goa Gebyok, Kecamatan Tepus, Gunung Kidul, Daerah istimewa Yogyakarta Sabtu (16/4/2013) yang disampaikan lewat sosial media. Berbagai tanggapan muncul menambah panjang renteng keprihatinan diselingi rasa syukur. Juga saling menghibur. Setidaknya ada 40-an komentar yang mengikuti.

Tak hanya 15 rekan seperjalanan yang berbagi kalimat, tapi juga mereka yang tak ikut serta. sampai, sampai ada yang menyarankan mending berkegiatan di mall daripada menghabiskan waktu di lorong sempit dan gelap pekat itu.

Ya, Sabtu itu kami menelusuri Goa Gebyok. Kemudian Selasa (19/3) koran-koran dan meda online memberitakan tewasnya tiga penelusur goa di Goa Serpeng atau lebih dikenal dengan Goa Seropan II di Dusun Serpeng, Desa Pancarejo, Kecamatan Semanu, Gunung Kidul. Eng…ing…eng…….kebersamaan dua hari satu malam itu bangkit kembali.

Serta-merta kami menjadi harus bertukar kabar. Menanyakan kondisi rekan-rekan seperjalanan. Tak ada kalimat lain yang terucap selain syukur dan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa. Kami menyusuri pintu masuk hingga melewati pintu keluar goa dengan keadaan sehat wal afiat tak kurang suatu apa. Maklum, goa yang kami masuki juga sungai di bawah tanah. Juga masih berada di Gunung Kidul.

Goa Gebyok Sabtu itu menunjukkan kenaikan debit air. TIdak ada parameter dengan alat khusus, tapi beberapa rekan yang dua pekan lalu punya pengalaman masuk gua kapur itu  sempat bertukar kata. “Airnya lebih tinggi daripada saat masuk pertama dulu.” Yang lain menimpali: “Airnya tak sejernih waktu itu.”

Sekeluar goa, kami baru paham jika hujan terus turun saat kami menelusur goa. Jalanan basah dan gerimis belum benar-benar pergi. Puja dan puji syukur bersautan terlontar setelah merasakan udara yang lebih lapang. Kami tak lagi terkungkung batu kapur penyusun goa Gebyok. “Akhirnya ambil napas bisa lebih bebas,” kata Citrani Prameswari, rekan seperjalanan dari Bekasi. Si mungil Gayatri Anissatyascita juga mengucap syukur tak terhingga.

Tapi ini bukan pintu keluar goa yang sesungguhnya. Setidaknya setengah jam waktu tempuh yang kami butuhkan sampai menemukan rerumputan hijau. Itupun dengan tanjakan terjal diseling jurang ke dalam goa. Bebatuan yang kami pijak juga bukan beton yang kokoh, tapi batuan belum matang yang bisa rontok kapan saja.

gebyok2

Setelah sampai di pintu keluar, benar-benar batas akhir goa, perjalanan bukan berarti tamat. Kami masih menitahkan kaki melangkah di jalan tanah dengan menyisir kebun singkong dan holaaaa mobil operasional tampak di depan mata.

Suka cita semakin mewarnai kelompok ini. Celotehan keinginan segera mandi atau nazar lain bertubi-tubi diucapkan.

Segala peralatan dan perlengkapan yang menjadi andalan saat di dalam goa berubah menjadi gangguan belaka. Bak anak tak tahu terima kasih, tanpa basa-basi kami segera melepaskan peralatan dan perlengkapan itu. Terutama sepatu boot karet hitam. Benda  yang begitu nyaman dan bermanfaat saat dipakai di dalam goa sangat itu sudah tak lagi berfungsi di jalan aspal. Apalagi kondisinya yang kian berat lantaran basah dan alas yang kian tebal oleh lumpur.

Jempol kaki juga tak lagi mau kompromi. Ujung-ujung jari sepakat protes tak mau lagi mengenakan sepatu dengan rasa senat-senut tak tahan berbenturan dengan karet dalam sepatu. Pakaian juga sudah basah kuyup dengan aroma tak karuan. Bau apak bak sudah 10 hari tak mandi, tapi kehujanan, kemudian kering, keringatan, kehujanan lagi, kering lagi, keringatan lagi, hujan lagi.

gebyok3

Maklum lima jalur vertikal plus jalur horisontal tak gampang dilewati. Kami memang tak perlu mikir cari pengaman dan memilih simpul ideal. Kami tak perlu repot memasang alat karena trip kali ini difasilitasi operator setempat. Kami juga tak perlu kembali melakukan ascending untuk menuju pintu keluar goa karena bisa jalan kaki mendaki meski perlu ekstra hati-hati. Tapi kami tetap harus SRT-an untuk melewati jalur vertikal. Bayangkan lima turunan dengan medan berair.

Jalur horisontal yang di goa lain menjadi bonus dengan ornamen-ornamennya, tak begitu di Goa Gebyok ini. Jalur mendatar ini tak melulu lempeng bebas berdiri atau jalan jongkok dan merayap. Benar, kami dipaksa mempraktekkan semua cara jalan yang dikenal.Yang bikin lumayan, tak ada pemetaan pada jalan-jalan kali ini.

Berjalan biasa seperti manusia masa kini, berjalan jongkok meski tak perlu melompat seperti kodok, sampai merayap tengkurap dan telentang menjadi kombinasi perjalanan delapan jam di dalam sana. Itu masih ditambah tuntutan melewati celah selebar body (saya) yang mengharuskan badan pandai-pandai memaksimalkan kelenturan untuk melengkung. Juga dibutuhkan kepintaran mencari pijakan ditambah mengatur power mendongkrak tubuh untuk melewati lorong vertikal itu.

Segala kepiawaian itu digunakan pada jalur final, ini sebutan saya sendiri, yang mendekati pintu keluar. Bak ujian akhir tahun, jalur itu merupakan jalur tersulit sepanjang goa. Saat  melewati jalur tersebut kami harus beratraksi dan berakrobat mengombinasikan semua kemampuan dengan sisa tenaga yang ada. Bukan lorong, tapi hanya celah dan kami harus melewati lobang ke atas. “Saya hampir putus harapan tak bisa melewati lobang itu,” Cahyo Nugroho, salah satu rekan seperjalanan yang punya tubuh sedikit tambun.

gebyok5

Tenaga menang sudah nyaris terkuras habis. Tak hanya dipicu SRT-an tapi juga energi untuk mengusir kebosanan saat menunggu dalam dingin dan basah dalam goa. Itu masih ditambah aksi-aksi narsis yang menjadi arena pembuktian kepercayaan diri setara model kalender Rp 10 ribuan. Berpose sana-berpose sini. Bergaya ala model kawakan kemudian berganti lagi ala peragawati kaya pengalaman.

Rikues foto dengan kamera si itu kemudian juga bermanis-manis muka minta difoto dari sudut sana. Kalimat-kalimat “hati-hati dengan ornamen” setiap kali akan berpose tak mengurangi atusiasme. Sulitnya medan perjalanan yang berkombinasi dengan gelap abadi ditambah rasa bosan saat antri alat juga tak menjadi alasan menurunkan frekuensi bergaya.

Kegembiraan tak bisa ditutupi lagi meski faktanya kondisi di luar goa, tak jauh berbeda. Jam  tangan menunjuk pukul 01.15 WIB. Serupa dalam goa, jalanan gelap gulita. Head lamp yang mulai kelap-kelip sedikit membantu. “Baru kali ini saya ikut trip sampai membuat remuk badan,” kata Wibowo Laksono, rekan dari Surabaya.

gebyok6

Cahyo dan Wibowo yang menjadi tumpuan foto-foto pun mengakui tak mudah mengabadikan gambar di gelap goa. Plus ditambah rewelnya para “model” yang minta ini itu.

Meski lelah dan lapar mendera tapi kami puas. Setidaknya kami senang dan haqul yakin sudah memenuhi etika penelusuran goa: tidak mengambil apapun kecuali gambar, tidak membunuh apapun kecuali waktu dan tak meninggalkan sesuatu kecuali jejak. Tujuan kami cuma satu: menuju basecamp di warung makan Mbah Ido yang ada di tepi pantai Siung. “Semoga nasi dan sayur serta lauknya sudah tersedia setiba kami di sana.”

Dan puja-puji syukur itu berlanjut sampai hari ini. Kami masih bisa menikmati nasi putih serta sayur dan lauk kesukaan. Kami juga masih bertukar kabar satu sama lain.

April 2013

Iklan

5 thoughts on “Berakrobat di Dalam Perut Goa Gebyok

  1. Ping-balik: Menelusuri Kedalaman Perut Bumi | femidiah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s