Rejeki Musiman Para Pengemis Dadakan

pengemis musiman1

“Sampai saat ini mereka tak menganggu kami, warga asli, tapi memang nama kampung menjadi kurang baik.”


Ajakan teman ke kampung pengemis tak bisa ditolak. Mendengar namanya saja langsung memantik keingintahuan. Penasaran. Lagipula belum ada keluyuran di akhir pekan yang akhrinya menjadi tradisi beberapa bulan terakhir ini.

Bertiga, saya, Ami Afriatni, dan Brigitha Secilia, menetapkan hari pertama Ramadan untuk berkunjung ke kampung pengemis itu. Berbekal informasi dari beberapa situs ibu kota gambaran “seram” sudah didapatkan, tinggal uji lapangan.Tak susah mencari Kampung Pertanian Tengah RT 008 RW 02, Kelurahan Klender, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur seperti yang disebutkan di Pos Kota dan Detik.com. Sebab, sudah menjadi rahasia umum jika mayoritas penduduk di daerah itu mencari nafkah dengan meminta-minta. Kampung itu memang sangat masyur, terutama warga sekitar.

Ancer-ancernya sangat mudah yakni kawasan mebel Duren Sawit. Namun jangan sekali-kali menyebut desa pengemis. Itu pesan dari para tukang mebel dan ibu RT, sebutan mudah istri Pak RT 008 yang tak mau disebut namanya.

Dari kawasan mebel itu jarak tak jauh lagi, seitar 200 meter. Nah, setelah bertemu SDN 01 Pagi Klender ada gang. “Turun saja ke bawah, tapi jangan sampai menyebut kampung pengemis. Nanti malah salah tafsir,” pesan ibu RT.

Cukup singkat tapi permintaan itu lumayan membuat ngeper. Benar juga siapa mau distempel jadi pengemis. Jadilah kami hanya bercakap-cakap dengan pihak ketiga, bukan pelaku.

Bu RT bilang mayoritas warga di kampung bawah, begitu dia menyebut kampung tersebut, adalah warga pendatang dari Indramayu dan Cirebon. Mereka ngontrak, bukan permanen. Maraknya profesi itu dimulai sejak 1982. Saking sudah sangat biasa profesi itu bahkan sampai muncul perusahaan PT Assalam. “Kerja modal salam,” candanya.

Profesi sebagai pengemis itu menjadi sangat biasa untuk penduduk di situ. Bahkan anaknya yang ada di kelas 5 SD sudah ogah sekolah. “Dia ingin ikut-ikut orang kampung bawah. Biar bisa dapat duit cepat,” kata si ibu.

Bu RT mengatakan jika tak sulit untuk latah mengikuti profesi itu. Tinggal pilih pakaian yang “pantas” sebagai pengemis atau pandai-pandai mencari informasi sedekah diadakan.

Ya, Bu RT paham benar cara kerja warganya karena dia pernah turut serta. Pada 2011 lalu dia diajak mengikuti pembagian sedekah yang diadakan salah satu orang kaya di Jakarta. Dia disarankan memilih pakaian ala kadarnya dan siap-siap untuk kuat berdiri lama sembari berpanas-panasan. “Tapi saya malu sendiri. Mendingan jaga warung seperti ini.” Warung Bu RT cukup sederhana. Jualannya jus dan mi rebus.

Dia cuma bisa maklum saja dengan kegiatan di kampung bawah. “Sampai saat ini mereka tak menganggu kami, warga asli, tapi memang nama kampung menjadi kurang baik.”

Dari uji organoleptik, ini istilah kampus dahulu kala, padahal cuma mau bilang laporan pandangan mata, di RT tersebut pemukiman memang sangat padat. Banyak kontrakan yang kondisinya jomplang.

Lantai satu masih layak huni tapi saat menilik ke lantai dua kondisinya sangat memprihatinkan. Dinding triplek dengan jendela sebesar muka. Kalau nongol di sana pas layaknya foto ktp. Perpaduan wajah dan pigura kotak segi empat. Atapnya seng. Jangan tanya soal panas di dalam kamar. Harga sewanya juga jauh. Lantai satu bisa Rp 350 ribu perbulan sedangkan lantai dua hanya Rp 150 ribu.

Di awal Ramadan bukan pilihan tepat untuk mencari kontrakan karena jarang ada kamar kosong. Ramadan menjadi peak season untuk mendapatkan rejeki dadakan. Mayoritas ya itu tadi, jadi pengemis. Sisanya ada yang memilih tukang asongan, menjadi penjual makanan dan minuman atau men-jablay.

Informasi itu dari keterangan Desi, adik pemilik salah satu kontrakan di area itu. Tapi sayang sungguh sayang saya nggak bisa mendeskripsikan apakah hunian itu benar-benar milik warga yang berprofesi sebagai pengemis atau bukan.

Dari informasi penduduk memang tak hanya pengemis yang tinggal tapi kampung itu sudah jadi kampung campur aduk. Ada jablay, maling, perampok, dan sebagainya dengan diksi yang banyak dipakai di tayangan berita kriminal.

“Nanti sekitar pukul 3 sore rombongan leang-leang itu akan lewat sini,” kata seorang ibu berbadan sentosa yang ogah menyebutkan nama aslinya. Dia hanya keceplosan kalau nama marganya Pandjaitan.

“Kalau pagi sampai siang seperti ini adalah waktu kerja. Di bulan puasa malah ada sift-siftan. Malam mereka juga kerja.” “Pekerjaan mereka boleh mengemis tapi pakaian sehari-hari bisa lebih baik daripada kami. Kalau pulang kampung mereka juga lebih mewah, bisa pakai truk dengan bawaan yang luar biasa banyak.”

Kalau mau melihat aktivitas lebih heboh, si ibu Pandjaitan itu menyarankan untuk menilik saat lebaran haji alias Idul Adha. “Harga daging akan murah meriah. Satu karung bisa hanya Rp 500 ribu.”

Keterangan Ibu Pandjaitan itu semakin membuat membuat saya lemah lunglai dan mual jadi satu. Kadang #perjalanan tak melulu tentang hal yang manis. Oh pemimpin Jakarta…..

Agustus 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s