Menyaksikan Ritual Pemotongan Rambut Gimbal di Dieng Plateau, Wonosobo

d1

“Kalau gimbal itu tak dikembalikan, si anak akan bernasib buruk di kemudian hari.” Begitulah mitos yang berkembang di antara bocah-bocah gimbal di dataran tinggi Dieng, Wonosobo.

Menyebut liburan ke Wonosobo, Jawa Tengah akan mengingatkan kepada hawa dingin, kebun teh, dan wisata ke Telaga Warna. Ritual pemotongan rambut gimbal mulai diangkat sebagai sebuah destinasi budaya.

Tujuh bocah menjadi pemeran utama pesta Dieng Cultural Festival pada 2-3 Juli 2012. Ketujuh bocah itu diarak di pelataran Candi Arjuna yang ada di kawasan Dieng Plateu, Wonosobo, Jawa Tengah.

Anak-anak itu mengenakan pakaian terbaik yang dimiliki. Sebagian pamer dengan berjalan sendiri. Sebagian lain minta gendong ayah atau ibu masing-masing.

Namun ketujuh bocah itu punya kesamaan. Mereka berambut gimbal. Mereka bukan kaum hippies atau penyuka reggae yang mendewakan Bob Marley. Saya ragu mereka paham lagu-lagu No Woman No Cry atau pernah jajal sabu.

Kedua orang tua mereka juga tak fanatik ngefans berat pemain legendaris dari Belanda, Ruud Gullit. Anak-anak itu keturunan ningrat. Begitulah kepercayaan yang berkembang. Mereka siap menjalani ritual potong rambut.

Para sesepuh berdanan lebih rapi pada pesta itu. Sesepuh pria memakai beskap lengkap  dengan keris. Tetua perempuan memakai kebaya komplit dengan sanggul. Perkakas doa dan pemujaan komplit.

Di pelataran itu juga ada ternak, telor, tempe, sepeda mini, dan lain-lain. Semuanya diletakkan dalam satu lokasi bukan tanpa lasan. Semua bakal menjadi alat tukar pemotongan rambut gimbal.

Satu persatu nama bocah dipanggil. Fajar Sardiyanto, 7 tahun, mendapatkan giliran pertama. Dia lantang menyebutkan keinginan.

“Satu kambing dengan muka hitam, satu marmot, dan 500 tempe,” kata Fajar dengan pelantang suara.

d2
Menurut Rusmanto, pimpinan upacara pemotongan rambut itu, rincian keinginan itu bukan dari si anak, tapi amanat Kiai Kolodete. Dia nenek moyang yang pertama kali membuka desa tersebut. Konon, Kiai Kolodete bersumpah tidak akan memotong rambutnya dan tak mandi sebelum desa yang dibukanya makmur.

Nah, jika keturunannya mempunyai ciri seperti dirinya, maka desa yang ditinggalinya bakal makmur.

“Kalau orang tua tidak memenuhi atau mengakali permintaan, dia akan gimbal lagi,” kata Rusmanto, pimpinan upacara pemotongan rambut itu

Pengalaman itu dimiliki Soibatul Aslamiyah. Bocah 4 tahun itu melakoni pemotongan rambut gimbal untuk kali kedua. Sejak awal dia meminta sepeda merah muda.

Ahmad Jauzi, ayah si bocah, mengiyakan. Tapi dia hanya snaggup membelikan sepeda jambon bekas. Eh, tak lama kemudian rambut gimbalnya tumbuh kembali.

Ahmad bergembira akhirnya putri kesayangannya bisa melepaskan rambut gimbalnya itu.

“Saya bersyukur ada acara ini karena membeli sepeda baru tidak murah,” kata Ahmad.

Pengalaman kegagalan pemotongan pertama membuat Ahmad sempat berpikir keras mencari jalan keluar.

“Saya tak boleh memberikan benda yang tak sesuai permintaan,” kata Ahmad.

Lima anak lain pun mendapatkan giliran. Satu-persatu mendapatkan keinginannya. Meski ada yang menangis takut-takut capur kepanasan upacara berjalan lancar. Biasanya, rambut gimbal hasil pemotongan itu kemudian dilarung ke Samudra Hindia. Caranya, rambut itu diikutkan aliran sungai Serayu.

Hanya saja, kali ini Rusmanto melarung di Telaga Warna, danau yang terkenal dengan warna-warni biru dan hijau bergantian.

“Saya mendapatkan wangsit lewat mimpi agar rambut gimbal kali ini dilarung di telaga Warna saja,” kata dia.

Rusmanto bersyukur para peserta festival itu tak mempunyai keinginan aneh yang menyulitkan panitia.
d3
“Permintaan sulit bisa membuat mereka gimbal sampai tua. Di desa sebelah, ada anak yang meminta gajah hijau sebagai gantinya. Bisa didapatkan di mana saya juga tak tahu,” kata Rusmanto.

Masyarakat percaya jika permintaan itu sejatinya dari Ratu Pantai Selatan yang menguasai Samudra Hindia.

“Gimbal itu pemberian Ratu Kidul. Suatu hari mereka harus mengembalikan kepada sang ratu,” kata Rusmanto, pimpinan upacara pemotongan rambut gimbal.

Jika tak dikembalikan, lajut Rusmanto, bocah-bocah itu bakal bernasib buruk di kemudian hari. Tak sembarang waktu bisa dipilih. Orang tua hanya bisa memotong rambut gimbal jika sang bocah menginginkannya. Banyak bocah-bocah berusia 4-8 tahun yang turut menyakiskan ritual unik itu.

Orang tua dan si bocah menikmati dengan prosesi yang ada. Hanya saja mereka tak terlihat mupeng dengan teman sepantaran yang  keinginannya terkabul.

“Anak gimbal akan minta dipotong rambutnya kalau sudah tiba masanya. Mereka sendiri yang bisa menentukan. Kalau belum ada keinginan ya tidak bisa dipotong,” kata dia.

Rusmanto dan para orang tua boca gimbal berharap festival it uterus berlanjut. Selain meringankan beban menyediakan keinginan si bocah, mereka juga senang ritual tersebut disaksikan publik.

“Yang seperti ini harus dilestarikan,” kata Rusmanto.

Iklan

2 thoughts on “Menyaksikan Ritual Pemotongan Rambut Gimbal di Dieng Plateau, Wonosobo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s