Menyinggahi Banyuwangi Tempo Dulu di Sanggar Genjah Arum, Kemiren

genjaharum

Jika sedang liburan ke Banyuwangi, Jawa Timur, mampirlah ke Sanggar Genjah Arum di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Duduk dan berbincang dengan pemilik sanggar, Setiawan ‘Iwan’ Subekti, kita akan dibawa ke Banyuwangi, eh Blambangan, tempo dulu bersama secangkir kopi. 

Bersama empat rekan seperjalanan–Yusmei Sawitri, Ropesta Sitorus, Agustin, dan Shava–serta guide lokal Kisma Dona, kami meluncur ke Sanggar Genjah Arum pada Mei 2013. Perjalanan ini menjadi salah satu destinasi liburan kami di tanah Blambangan, Banyuwangi, Jawa Timur.

“Kita akan menuju ke Desa Kemiren. Desa ini desa adat yang masih ditinggali orang-orang Using,” kata Dona kepada kami.

Sebagai penumpang, kami manut. Dari referensi yang kami baca, desa ini cukup unik. Mereka masih menjalankan ritual adat orang Using.

Saat mobil dihentikan dan Dona menyebut kami sudah sampai di lokasi, saya terkejut. Kami tidak melihat gerbang atau tugu selamat datang layaknya ke sebuah desa. Kami malah berhadapan dengan rumah berpagar tinggi.

Saat masuk, kami digiring ke bangunan joglo dengan satu set kursi tamu dan alat menenun. Duduk sebentar dan berbisik-bisik di antara kami, Mas Dona memanggil. Kami dipertemukan dengan Pak Iwan.

Setelah bersapa dan bersalaman dengan Pak Iwan, kami pindah ke rumah di sebelahnya. Ya, ini miniatur desa adat Using. Lokasinya di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Kabupaten Banyuwangi atau Blambangan, di Jawa Timur.

Di desa inilah para penduduk adat Using yang masih menjalankan ritual tinggal. Dua rumah yang sempat kami ampiri tadi adalah dua di antara tujuh rumah adat yang ditata beraturan di atas lahan seluas 7.000 meter persegi milik. Beberapa pohon kopi robusta yang masih pendek ditanam di area halaman.

Saat masuk ke rumah adat yang satu ini, mata saya langsung tertarik dengan bar mungil penuh dengan pajangan aneka stoples kopi. Nanti, Iwan akan mengeluarkan sebagian kopi koleksinya dari berbagai belahan dunia yang diracik dengan cara yang berbeda-beda.

Saat kami minta kejelasan suku Using, Pak Iwan menolak. “Nanti saya pertemukan dengan sesepuh Using. Ngopi dulu saja ya,” kata Iwan.

Ajakan ngopi jelas tak bisa ditolak. Dari rombongan kami, hanya Yusmei yang ragu-ragu. Rekan seperjalanan saya dari Solo itu mulas setiap kali usai ngopi.

“Tenang saya bikinkan kopi yang tidak bikin mulas. Kalau di sini harus ngopi. Sebab, di sini sekali seduh kita bersaduara,” kata Iwan.

yusmei

Yusmei pun langsung tertarik. Iwan menunjukkan kepiawaian sebagai seorang barista. Dari obrolan yang terjadi, rupanya dia yang pemilik Sanggar Genjah Arum adalah generasi kedua pemilik perkebunan kopi di Kalibendo, Banyuwangi.

Lahir dan besar di Banyuwangi, Iwan merasa amat Using. Dia tak ingin adat Using itu musnah begitu saja. Dia mulai mengumpulkan rumah adat di atas tanah miliknya.

Konon, rumah-rumah kayu yang mempunyai empat macam bangunan itu berumur di atas 50 tahun dan 100 tahun. Benda-benda kuno lainnya menambah nuansa jadul di dalam rumah-rumah itu.

Tatanan rumah-rumah adat yang dipadu dengan taman yang elok plus fasilitas MCK yang resik menjadikan kemasalaluan itu menjadi makin asyik.

Dia memilih nama genjah arum yang seperti nama beras bibit unggul. Di sanggar itu dilakukan banyak acara. Dari kumpul-kumpul ngopi sampai cangkrukan para seniman Banyuwangi.

Kalau sedang beruntung, pelancong bisa menikmati pertunjukan kesenian khas Banyuwangi di Sanggar Genjah Arum. Atau bisa menyaksikan para gadis menenun. Waktu itu, kebetulan Sanggar Genjah Arum sedang tak punya jadwal. Tapi ngobrol dengan Pak Iwan tak kalah jadi kegiatan menarik.

Pak Iwan ini bukan pendongeng atau seniman. Dalam perjalanannya Iwan lebih dikenal sebagai tester kopi dan empu kopi. Dia sering kali traveling ke penjuru dunia sebagai juri kopi. Sampai ke Brasil, Amerika Serikat, Jepang, juga negara-negara Asia Tenggara. Beberapa foto yang ada di dinding dan majalah-majalah koleksinya mengukuhkan siapa Iwan di antara ahli kopi Indonesia.

“Saya buatkan satu-satu ya. Biar semua merasakan kopi Banyuwangi,” ujar Iwan sambil berpromosi.

Iwan juga meracik kopi dari negara lain. Meminta kami menyeruputnya. Membandingkan dengan kopi robusta asal Banyuwangi tadi.

kopibmw

Dia kemudian menjelaskan perbedaan biji arabika dan robusta, Juga tentang kelebihan dan kekurangan. Bagaimana menyimpan dan me-roaster biji-biji itu. Soal tradisi yang benar dan salah dalam mengolah biji-biji kopi dari pemetikan, menjemur, sampai perlakuan di atas tunggu. Juga sampai saat menyeduhnya dan menikmati kopi itu.

“Sebelum meminum, nikmati dulu aroma kopinya. Hidung harus didekatkan pada bibir cangkir. Setelah aroma kopinya ke hidung, baru diseruput,” kata Iwan.

“Saat meminumnya harus sampai berbunyi slrruuppp. Jangan langsung ditelan, tapi tahan dulu di mulut sampai rasa kopinya menempel di lidah,” jelas pria kelahiran 1957 itu.

Dari obrolan sepanjang siang sampai malam, pria lulusan Universitas Satya Wacana itu mengemukakan kebanggaan sebagai anak bangsa. Juga terselip kekecewaan dengan ketidaktahuan mayoritas orang Indonesia akan potensi hasil bumi yang dimiliki, terutama kopi.

“Seharusnya kita paling mudah mengonsumsi kopi terenak. Tapi, kita malah dipaksa minum kopi sortiran dan sudah lawas itu,” ucap Iwan.

“Saya ingin menjadikan Banyuwangi sebagai kota kopi. Saya ingin Banyuwangi mempunyai kopi dan kedai kopi yang benar. Bagaimana kopi Indonesia menjadi tuan rumah di Indonesia,” tutur dia.

Mei 2013

Iklan

2 thoughts on “Menyinggahi Banyuwangi Tempo Dulu di Sanggar Genjah Arum, Kemiren

  1. Ping-balik: Dari Mana Asal Suku Using di Banyuwangi? | femidiah

  2. Ping-balik: Mereka Mencintai Kopi dengan Caranya Sendiri | femidiah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s