Museum Sukowidi, Banyuwangi Muncul Karena Pemerintah Absen

sukowidi

Liburan ke Banyuwangi tak melulu harus ke Baluran ‘Africa van Java’ yang jadi tempat wisata primadona. Museum Sukowidi di Banyuwangi, Jawa Timur yang muncul sebagai bentuk protes terhadap pemerintah yang abai juga bisa jadi jujugan.


Maka hanya satu kata: lawan! Begitulah kalimat sohor dalam puisi Wiji Thukul. Kalimat itu dipegang benar oleh sekelompok penggiat sejarah di Banyuwangi.

Mereka memberikan stempel wadah perlawanan itu Koseba, Komunitas Sejarah Banyuwangi. Ada rumah eh museum Sukowidi yang akhirnya juga menjadi tempat kumpul dan wisata sejarah soal Banyuwangai, benar Banyuwangai, bukan Banyuwangi.

Saya tak habis pikir. Kisma Dona, guide yang menemani kami pada perjalanan di Banyuwangi akhir Mei lalu, menawari mampir di museum.

Papan nama rumah itu jasa angkutan EXPEDISI. Rumah. Bukan gedung.

Kekagetan saya tak berhenti saat memasuki ruangan. Melepas sandal seperti hendak masuk masjid. Saya juga tak perlu merogoh kantong untuk membeli tiket masuk.

Lagipula museum mana yang jam tujuh malam masih menerima pengunjung? Tidak bisa tidak, mata saya jelalatan tak sopan saat memasuki rumah lawas di jalan Yos Sudarso No. 15, Banyuwangi itu.

Suasana jadul alias jaman dulu makin kentara dengan foto-foto yang terpasang di dinding ruang paling depan. Lampu antik menjadi asesori.

Rasa asing luntur seketika saat seorang wanita berkerudung menyapa.

“Masuk saja ke kamar,” kata perempuan itu sembari menyebutkan namanya. “Ira, Ira Rachmawati.”

Tak hanya Ira, pendiri Koseba lain, Taufiq Ridlwan Bachamis, hangat menyambut saya dan empat rekan seperjalanan. Yusmei Savitri, Ropesta Sitorus, Agustin Ardiani, dan Shava kompak memanfaatkan undangan rehat sejenak.

Tapi bukannya beristirahat dan bebersih, kami justru terlibat obrolan mengasyikkan. Ira yang seorang penyiar radio dan Taufiq yang mahir bercerita dan berpengalaman di bidang sound effect piawai menyeret kami ke masa lalu Blambangan. Begitu mereka lebih suka menyebut Banyuwangi.

Ropesta asyik mengabadikan lukisan dan foto-foto hitam putih yang menyebar di dinding rumah. Kami bertiga—saya, Yusmei, dan Ririn—memilih menyimak rangkaian cerita dari Ira dan Taufiq. Kami sampai tak peduli ke mana Shava pergi.

Tak segan keduanya memamerkan replika lukisan candi macan putih yang belum siap dipamerkan. Lukisan candi yang diterima dari seorang kenalan. Ira rancak menjelaskan lokasi candi dan ancer-ancernya saat ini.

Diskusi asyik pun mengalir. Sulitnya mendapatkan foto-foto dan lukisan kuno.  Juga catatan-catatan bangunan gedung-gedung tua beserta informasi penopangnya. Tapi kemudian ada selebrasi kecil- kecilan setelah mendapatkan titik terang sebuah peninggalan.

Yang mengasyikkan lagi, meski jabatan Ira cukup mentereng, divisi penelitian dan pengembangan profesi, dia sama sekai tak sungkan bilang tak paham. Taufiq yang bertanggung jawab pada bagian riset tentang budaya dan sejarah Banyuwangi menimpali saat Ira dirasa memberikan informasi yang kurang tepat. Dona sesekali nimbrung.

Kami jadi penanya yang super aktif condong menuju norak. Maklum, kami ke Museum Koseba ini tanpa sengaja. Tak ada rancangan khusus untuk singgah di sini. Ternyata beberapa tempat yang kami datangi menyimpan segudang fakta sejarah.

Keputusan mampir di museum itu bermula mencari informasi tentang Watudodol. Batu raksasa itu bak tugu atlet di Senayan. Dia berdiri megah di membelah jalan.

Tanpa tahu masa lalunya, batu yang ada di tepi itu sekedar batu tak beraturan berukuran jumbo. Tingginya sekitar 6 meter. Nyatanya saya pernah lewat sini saat mengikuti lomba balap sepeda Tour de Indonesia dari Jakarta ke Bali 2008 lampau.

Bahkan, rombongan saya berhenti sejenak di bawah patung penari gandrung yang cantik jelita. Saya menganggap tempat ini sekedar batas antara Situbondo dan Banyuwangi. Ditandai patung penari dan batu raksasa.

Agar punya bukti finis jalan raya Deandels kami berfoto ramai-ramai. Lagipula Pulau Bali terlihat ada di seberang. Bisa buat latar belakang yang cukup kece Pelabuhan Ketapang juga tinggal sepelemparan batu. Sudah. Titik.

Barulah di kemudian hari, pada perjalanan kali ini, saya mengetahui jika konon Watudodol itu punya daya magis. Batu raksasa itu emoh dipindahkan dari tempatnya.

“Dulu kala itu area plesiran noni-noni Belanda. Daerah itu memang sudah tersohor keindahannya,” kata Ira.

Itu baru satu versi tentang watu dodol. Masih ada tiga cerita lain tentang muasal batu itu. Cerita keelokan Blambangan pun mengalir manis dari Ira, Taufiq, dan Dona.

Namun ada keingintahuan yang sejak tadi mengganggu. Mumpung ada kesempatan, kami menanyakan rumah siapa ini. Kok rela dijadikan museum tanpa tiket masuk. Siapa yang bertugas bersih-bersih, makanya pengunjung harus copot sandal segala.

“Kami tak puas dengan pemerintah. Kalau bukan kami yang menelusuri sejarah Blambangan siapa lagi,” kata Taufiq.

Menilik situs Koseba, komunitas itu resmi dibangun pada 15 Agustus 2010. Tak hanya mereka bertiga, tapi ada pula penggagas dari mahasiswa, jurnalis, dosen, guru dan penggiat budaya.

“Masyarakat bisa bergabung dengan menjadi anggota koseba,” kata Ira.

Karena punya latar belakang kepedulian itulah Ira dkk memutuskan jika museum digratiskan. Mereka puas jika museum penuh dengan bocah. Juga didatangi penggiat budaya dan pecinta sejarah untuk kongkow-kongkow dan berdiskusi.

Toh, museum itu rumah Ira yang tak ditinggali. Menurut Ira, rumah itu dibangun apda 1928. “Dulunya tangsi Belanda,“ kata Ira. Kusen pentu dan jendela serta pembagian ruang-ruang di rumah tersebut masih menyisakan selera wong londo.

Bagi yang tak bisa datang langsung, grup facebook Komunitas Sejarah banyuwangi menjadi tempat perjumpaan maya.

“Temuan baru selalu kami bagi di sana. Kami ini muncul karena pemerintah absen,” kata Ira menegaskan.

Dan mereka memutuskan bergerak. Lawan! Ira dkk mengambil sikap membangun Koseba dan Museum Sukowidi.

Iklan

One thought on “Museum Sukowidi, Banyuwangi Muncul Karena Pemerintah Absen

  1. Ping-balik: Menyaksikan Tinggalan Belanda di Asrama Inggrisan, Banyuwangi | femidiah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s