Menerbangkan Harapan di Pelataran Borobudur

borobudur

Lelah penantian terbayar sedikit demi sedikit, hingga tuntas saat menitipkan doa pada api lampion dalam malam perayaan Waisak di pelataran Borobudur.

“Mari kita nyalakan api lampion dan tiupkan harapanmu. Kalau sudah siap, biarkan terbang, jangan sampai nyangkut di pohon.”

Aba-aba itu datang dari altar. Entah siapa yang mengumandangkan. Namun instruksinya sukses mengubah khidmat prosesi doa sejak Ahad petang menjadi hiruk-pikuk di larut malam hingga menjelang Senin dini hari.

Saya dan tiga teman dari Jakarta hanya menebak-nebak biksu mana yang menitahkan dengan nada lembut tapi ceria itu.

Posisi kami kurang strategis untuk menyaksikan segala kesibukan di altar itu. Kendati altar, tempat berkumpul para biksu dan biksuni, dibangun lebih tinggi dibanding tempat kami para penonton dan umat Buddha yang merayakan Waisak pada 6 Mei lalu, tetap saja tak membantu. Bahkan setelah kami berjinjit. Tapi cukuplah kami menyimak suara biksu yang digandakan volumenya dengan pelantang di kanan-kiri panggung.

Hanya patung sang Buddha, didampingi berbagai sesembahan, yang tampak mencolok. Sang Buddha yang duduk bersila tampak kian sentosa dengan latar Borobudur.

Bangunan abad kesembilan yang begitu tersohor dengan klaim masuk daftar tujuh keajaiban dunia, di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah tampak makin terlihat megah. Orang sering keliru, padahal borobudur masuk world heritage UNESCO. Itu lho badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengurusi ilmu pengetahuan, pendidikan, dan budaya.

Tak harus menunggu daulat kedua, lampion pun segera disulut. Duh, kami kalah cepat. Puluhan lampion lain sudah terbang melewati ketinggian Borobudur, yang sekaligus menjadi latar altar malamitu.

Alamak, kenapa pula korek api yang sudah disiapkan sejak tadi nyeliphingga memaksa mengorek-ngorek tas lebih dalam lagi. Kebetulan ada seorang bapak melewati rombongan kamidan menawarkan korek api. Tak buang-buang waktu, kami menyambut dengan mengulurkan tangan.

Empat sisi berbeda dari sumbu pada lampion pun disulut. Kenapa aktivitas sepele ini seolah-olah menjadi lebih sulit.

Khawatir kertas lampion terbakar atau robek dan waswas apitak stabil. Beberapa menit kemudian, api membesar dan badan lampion mengembang.

“Ayo, ucapkan harapanmu. Make a wish,” kata temanku. Bak kerbau dicocok hidungnya, satu kalimat yang sudah saya siapkan pun terlantun dalam hati. Saya ulang-ulang agar khasiatnya mujarab.

Di sini sensasi itu muncul. Rasa seperti hendak masuk sekolah kali pertama. Rasa seakan-akan memulai hari perdana bekerja.

Saya deg-degan luar biasa untuk melepas lampionitu. Syukurlah, lampion yang membawa apiituterbangtinggi. Tak tersangkut pohon, juga sukses menari lebihtinggi daripada stupa Borobudur.

Ternyata saya tak sendirian, ketiga teman saya mengalami perasaan serupa.

“Acara ini bukan hanya untuk umat Buddha. Puncak acara dengan menerbangkan lampion bisa diikuti siapa saja,” kata Ketua Perwakilan Umat Buddha Indonesia Siti Hartati Tjakra Murdaya (Chow li ing) sehari sebelumnya.

“Menerbangkan lampionitu disertai pengucapan harapan. Itu sudah jadi tradisi,” ujar pengusaha yang filantropis itu.

Susunan acara yang sangat tepat. Menerbangkan lampion menjadi puncak suka cita. Ajaibnya, rasa lelah dan sakit menguap begitu saja. Seperti saat kredit lunas tuntas. Plong.

Sebelumnya, rasa senang muncul bertepatan bulan mengusir mendung tebal. Borobudur, yang malam itu disorot lampu-lampu terang, semakin megah.

Lelahpun berkurang bertepatan saat biksu dan biksuni berpradaksina atau bersemadi sambil berjalan sesuai dengan arah jarum jam. Dengan menenteng lilin dan melantunkan doa-doa, biksu dan biksuni mengelilingi Borobudur sebanyak tiga kali.

Padahal sebelumnya kami hampir menyerah. Mungkin juga mereka yang mengikuti rangkaian acara sejak pagi. Hujan dan panas datang bergantian. Acara doa yang bergulir sejak pukul 18.00 WIB tak juga rampung. Keinginan mengistirahatkan kaki alias sekadar duduk bukan perkara mudah. Area di depan altar telanjur ditutup karpet kuning yang jadi basah setelah diguyur hujan.

Beruntung, kali ini PT Taman Wisata Candi Borobudur, pengelola, melonggarkan peraturan larangan membawa makanan. Pada hari biasa, jangan harap bisa makan di atas candi. Hanya minuman yang boleh dibawa serta. Kalaupun bekal telanjur dibawa di dalam tas, sesampai di pintu masuk Borobudur penjaga menyediakan tempat penitipan makanan.

Rasa capai itu bukan hanya akumulasi sejak petang. Jika dirunut dari awal, umat Buddha memulai prosesi doa sejak pagi.

Doa di hadapan Borobudur merupakan lanjutan puncak Waisak di Candi Mendut, yang berjarak 3 kilometer dari Borobudur yang berlangsung sejak pagi. Di candi itu dipertemukan air suci dari Umbul Jumprit, Ngadirejo, dan api abadi dari Mrapen, Purwodadi.

“Air itu melambangkan kehidupan manusia, sedangkan api mengibaratkan cahaya,” kata Hartati.

Agar pengunjung tak mengalami kesulitan, jadwal acara disediakan dua hari sebelumnya. Jadwal itu sangat membantu. Kami menjadi tahu ada puncak Waisak. Pada edisi 2556 BE atau 2012 ini, puncak Waisak jatuh pada pukul 10.34.39 WIB.

Tepat pada waktu itu dilakukan pemukulan gong tiga kali oleh Biksu Wongsin Labhiko Mahathera didampingi Biksu Tadisa Paramita Mahasthavira di depan altar Sang Buddha Gautama di tengahnya.

Nah, tepat pukul 13.00 WIB, api dan air itu diusung ke Borobudur dengan berjalan kaki. Hujan tak menghalangi arak-arakan biksu dan biksuni serta para penonton di sepanjang jalan dari Mendut menuju Borobudur. Caping dan payung menjadi pilihan untuk melindungi dari basah air hujan.

Rombongan memasuki area Borobudur melalui pintu tujuh, yang sekaligus menjadi jalan masuk ke Hotel Manohara. Sesampai di Borobudur, rombongan tak beristirahat, tapi langsung berkeliling candi yang dibangun pada abad kesembilan itu sebanyak tiga putaran.

Acara keagamaan belum rampung. Masing-masing rombongan memisahkan diri sesuai dengan kelompoknya. Buddha Mahayana mendapatkan perhatian paling besar. Alasan utamanya, lokasi doa mereka paling dekat dengan Borobudur. Penasaran? Jangan sampai ketinggalan Waisak tahun depan.

12 Mei 2012

Iklan

4 thoughts on “Menerbangkan Harapan di Pelataran Borobudur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s