Irisan Gula Aren yang Membuat Kopi Gayo di Aceh Makin ‘Wah’

kopi espresso bonus gula aren

Jelajah warung kopi. Itulah misi sampingan utama alias enggak boleh terlewatkan yang saya bawa ketika ditugaskan ke Banda Aceh awal Maret tahun ini.

Begitu menjejakkan kaki di bandar udara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh saya pun langsung mencari warung kopi di area kedatangan. Harapan saya pudar, karena tak menemukannya.  Tapi, misi itu tak terhapus begitu saja. Pokoknya mumpung ada di provinsi yang disebut sebagai daerah 1.000 kedai kopi, ngopi harus dijalani.

Bersama beberapa rekan yang juga ditugaskan ke Banda Aceh, kami sepakat untuk menjajal warung kopi Sada Coffee di jalan Twk. Hasyim Banta Muda, kampung Mulia Banda Aceh. Gampang kok untuk menemukan warung kopi ini. Lokasinya  di samping Gudang Damri. Katanya, ini cabang dari Sada Coffe yang ada di Jalan Senangin, Lamprit, Banda Aceh.

Sampai di tkp alias tempat kejadian perkara duh, warung tutup. Tapi ternyata cuma tutup pintu tapi tetap menerima pelanggan, seperti warung makan di Jawa saat siang di bulan ramadhan.

“Kalau magrib semua warung tutup sebentar. Kami beribadah, tamu tetap bisa ngopi kok,” kata Iwan, salah satu pelayan di warung kopi tersebut. Tapi, tamu tetap bisa masuk ke kedai lewat pintu belakang.  Tak lama kemudian, pintu kedai dibuka lebar-lebar. Pengunjung juga mulai berdatangan. Tentunya mereka sudah paham dengan kebiasaan tutup sementara itu.

Warung ini menawarkan kopi Gayo yang memang tersohor pahit gurih dengan aroma yang tajam. Barista mengolah kopi dengan mesin kopi, bukan lagi cara tradisional dengan mengangkat gelas tinggi-tinggi dan dituang ke gelas lainnya.

Kami memutuskan ‘jajan’ tiga macam kopi yang berbeda. Kopi tubruk, kopi susu, dan sanger alias kopi dengan susu sedikit.  Mana yang lebih enak? Saya paling suka kopi item alias kopi tubruk. Disajikan secara espresso, kopi ini menjadi istimewa karena didampingi irisan gula aren. Iya, irisan. Bukan serbuk yang biasa disediakan di kedai-kedai kopi di tempat lain.

“Ini tak dicampur seperti gula pasir ke dalam minuman, tapi berguna buat penawar pahit setelah meneguk kopi espresso itu,” jelas Iman.  Tak semua kedai kopi di Banda Aceh menyediakan irisan gula aren. Jadi Sada Coffee ini memang sayang kalau dilewatkan.

Penjelajahan warung kopi kedua saya lakukan di lain hari. Kali ini, saya mampir ke Kopi Solong di Jalan T. Iskandar Nomor 13, Ulee Kareng.

Nah, di sinilah kopi Aceh yang (disajikan) dengan cara yang sangat Aceh. Kita bisa menyaksikan atraksi barista yang menuang kopi dari teko satu ke teko lainnya yang diangkat tinggi-tinggi dan air kopinya disaring dengan saringan macam kaus kaki. Aceh bangetlah pokoknya.

Warung kopi ini memilih kopi robusta jadi sajian. Bisa memilih kopi tubruk, kopi susu, atau sanger. Yang makin mengasyikkan, pramusaji bakal membantu pemilihan sajian kopi. Mereka juga tak menutup-nutupi cara membuat kopi.

Ngopi di sini seolah ngopi di pasar. Tak pakai AC, eh tapi ada wifi dink. Colokan juga tersedia. Yang membuat berasa ngopi di pasar adalah si pemilik menyediakan jajanan pasar yang disajikan dalam piring-piring kecil. Seperti kue timpan, klepon, onde-onde, dan pisang goreng.

Harga pergelasnya tak bikin kantong bolong. Cuma Rp 11.000. “Mana ada ngopi di Jakarta harga segini,” celetuk teman seperjalanan saya, Dika.

Kalau ingin membawa pulang kopi bisa saja. Per kilogram nya dijual Rp 150.000. Variasi kopi yang dicampur dengan rempah-rempah juga tersedia. Harganya lebih mahal, per kilogram Rp 180 ribu.

Warung ketiga yang saya datangi bukanlah warung legendaris. yang ini termasuk pemain baru. Rumoh Aceh adanya di Jalan Rawa Sakti V No. 122 B, Banda Aceh, sedikit masuk ke gang tapi larisnya minta ampun.

Warung kopi ini mendobrak pakem warung kopi di Aceh yang tak menawarkan makan besar–nasi, sayur, dan lauk-pauk. Warung ini justru menyajikan kopi plus makan rayeuk, sajian makan mirip-mirip warung nasi Padang.

Bangunannya terbuka tanpa dinding, baik di lantai satu atau dua. Bisa sambil makan atau sekadar minum-minum. Ya, warung makan ini juga menyediakan biji kopi atau bubuk. Jadi tak perlu repot jika ingin membawa pulang.

Warung makan, eh kopi ini sekaligus menawarkan plesiran di dalam rumah adat Aceh. Secara tak tertulis mereka juga menerapkan tata krama Aceh yang menabukan para tamu untuk bertindak tak sopan, misalnya tertawa terbahak-bahak, ngobrol tak pantas, dan lain-lain.

 

Iklan

7 thoughts on “Irisan Gula Aren yang Membuat Kopi Gayo di Aceh Makin ‘Wah’

  1. Ping-balik: Mereka Mencintai Kopi dengan Caranya Sendiri | femidiah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s